Pengendara melewati jalan seputaran Alut Keraton Solo yang digunakan pedagang kerajinan gerabah untuk berjualan selama perayaan Sekaten 2016, Jumat (16/12/2016) pagi. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Pengendara melewati jalan seputaran Alut Keraton Solo yang digunakan pedagang kerajinan gerabah untuk berjualan selama perayaan Sekaten 2016, Jumat (16/12/2016) pagi. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Jumat, 16 Desember 2016 14:15 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

SEKATEN 2016
Pedagang Gerabah Ingin Berjualan Lebih Lama, Ini Alasannya

Sekaten 2016 diwarnai niatan pedagang yang ingin berjualan lebih lama.

Solopos.com, SOLO — Sejumlah pedagang gerabah berencana tetap berjualan di jalan seputaran Alun-alun Utara (Alut) Keraton Solo hingga melebihi batas waktu yang ditentukan panitia Sekaten 2016 yakni Sabtu (17/12/2016).

Salah satu pedagang kerajinan gerabah asal Kecamatan Mayon, Jepara, Sumar’ah, 55, berencana meninggalkan jalan seputaran Alut pada Senin (19/12/2016). Sumar’ah ingin berjualan lebih lama karena barang dagangannya kurang laku.

“Sesuai peraturan tenda harus dibongkar paling lambat besok [Sabtu]. Tapi saya mau coba bertahan dulu sampai Senin depan. Semoga saja panitia memperbolehkan pedagang berjualan lebih lama. Pedagang ingin memanfaatkan akhir pekan ini untuk menambah pemasukan,” terang Sumar’ah saat ditemui di lapaknya, Jumat (16/12/2016).

Sumar’ah mengatakan tidak banyak pembeli yang datang ke jalan seputaran Alut karena sering kali terjadi hujan. Sumar’ah menyebut pedagang butuh tambahan waktu berjualan agar memperoleh pemasukan untuk mengembalikan modal awal mereka.

Pedagang kerajinan gerabah lainnya, Sutikno, 66, juga berencana nekat berjualan hingga Senin pekan depan. Dia mengaku omzet yang dia peroleh pada perayaan Sekaten tahun ini jauh lebih sedikit ketimbang pada tahun lalu.

“Kami cuma meminta agar boleh berjualan setidaknya pada hari Sabtu dan Minggu ini. Saya sendiri sudah keluar uang sampai Rp20 juta untuk memproduksi barang kerajinan gerabah. Uang itu juga saya gunakan untuk membayar sewa mobil yang mengangkut barang dari Jepara ke Solo. Kalau barang ini tidak habis, saya harus sewa mobil lagi untuk membawa pulang ke Jepara,” jelas Sutikno.

Saat dimintai konfirmasi, Ketua Panitia Sekaten 2016, Suparno, menegaskan para pedagang kerajinan gerabah maupun kuliner yang berada di jalan seputaran Alut dan Jl. Pakubuwo harus steril dari pedagang Sekaten pada Minggu (18/12/2016).

“Pedagang di sekitar Alut dan Jl. Pakubuwono sudah kami jadwalkan untuk meninggalkan lokasi pada 17 Desember ini. Mereka sudah berjualan sejak 1 Desember lalu. Berbeda dengan Maleman Sekaten yang berada di benteng. Mereka yang di benteng baru beroperasi pada 5 Desember. Jadi pedagang di benteng bisa berjualan hingga 25 Desember,” jelas Suparno.

lowongan kerja
lowongan kerja Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Kasus Klaten Mengingat Pejabat Pengingkar Amanat

Gagasan Solopos ini telah terbit di HU Solopos Edisi Rabu (4/1/2017). Buah gagasan Muhammad Milkhan, pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten yang beralamat email di milkopolo@rocketmail.com. Solopos.com, SOLO — Predikat laknat memang pantas disematkan kepada para pejabat yang mengingkari amanat. Para pejabat…