Dapur umum warga di Pantai Cemoro Sewu, Parangtritis, Bantul. (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja) Dapur umum warga di Pantai Cemoro Sewu, Parangtritis, Bantul. (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 16 Desember 2016 13:55 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

RESTORASI GUMUK PASIR
Usai Penggusuran, Warga Cemoro Sewu Dirikan Dapur Umum

Restorasi gumuk pasir menggusur rumah-rumah warga di kawasan Pantai Cemoro Sewu

Solopos.com, BANTUL-Eksekusi telah usai. Tapi penyiapan lahan relokasi belum selesai. Warga Cemoro Sewu yang terdampak penataan zona inti gumuk pasir kini hanya bisa menunggu. Apa yang mereka lakukan sembari menunggu kepastian nasib dari pemerintah?

Baca juga : RESTORASI GUMUK PASIR : 2 Alat Berat Diterjunkan untuk Merobohkan Bangunan di Pantai Cemoro Sewu

Asap mengepul dari nasi yang ditanak di sebuah panci. Seolah abai terhadap kepulan asap itu, tiga orang ibu rumah tangga tampak riuh berbincang di sekitar tungku.

Tungku itu sendiri, baru beberapa jam yang lalu dibuat oleh para lelaki yang kemungkinan besar adalah para suami mereka. Batu, batako dan tumpukan kayu dari puing reruntuhan mereka jadikan bahan utama membuat tungku.

Di sudut yang lain, lima anak tampak ceria bermain. Entah apa yang mereka mainkan, tawa polos mereka seolah menjadi penghibur bagi ibu-ibu rumah tangga yang sesekali masih tampak murung dan termenung.

Ya. Tenda biru yang sengaja mereka dirikan di kawasan sisa gusuran itu kini adalah menjadi pusat aktivitas mereka. Dapur umum, begitu mereka menyebutnya. “Dapur umum itu adalah sumbangan dari kawan-kawan mahasiswa. Ada juga sumbangan dari kotak amal yang kita pasang di tengah jalan. Lumayan, sejak kemarin [14/12] kami bisa peroleh Rp500 ribu ,” kata salah satu warga, Susanto, Kamis (15/12/2016).

Sementara di reruntuhan, beberapa warga tampak sibuk memilah barang yang setidaknya masih mereka anggap berharga. Balok kayu, bilah papan, serta batako yang masih utuh mereka ambil dan pisahkan dari tumpukan material lain yang sudah terlihat luluh lantak.

Tak banyak yang bisa mereka lakukan sekarang. Setelah rumah mereka diruntuhkan oleh dua alat berat milik pemerintah saat proses eksekusi, Rabu (14/12/2016) lalu, tak ada yang bisa mereka perbuat selain mengais sisa mimpi yang sudah mereka bangun puluhan tahun di kawasan itu.

Kini, mimpi itu harus kembali dibangun, dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Tapi, tanpa rumah untuk berteduh, jelas itu menjadi hal yang tak mudah.

Padahal, mereka tengah menikmati separuh mimpi itu yang sudah terealisasi. Wisata gumuk pasir, misalnya. Objek wisata yang menjual keeksotisan hamparan pasir pantai itu memang nyaris tak pernah sepi.

Selalu ada saja yang berkunjung ke sana. Bahkan ketika wilayah itu tengah gencar diberitakan di media massa, pengunjung tetap saja setia ke sana. Inilah yang lantas menjadikan wilayah Cemoro Sewu menjadi surga baru bagi warga yang puluhan tahun berada di sana.

“Tapi dengan kondisi seperti ini, sulit sekali bagi saya untuk memulai dari awal,” gerutu Parwanto, salah satu pengelola sekaligus perintis wisata gumuk pasir di Cemoro Sewu sambil mengumpulkan material berharga dari tumpukan puing bangunan rumahnya yang sudah rata dengan tanah.

lowongan kerja
lowongan kerja PT.DISTRIVERSA BUANAMAS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Banner Toko

Kolom

GAGASAN
Kasus Klaten Mengingat Pejabat Pengingkar Amanat

Gagasan Solopos ini telah terbit di HU Solopos Edisi Rabu (4/1/2017). Buah gagasan Muhammad Milkhan, pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten yang beralamat email di milkopolo@rocketmail.com. Solopos.com, SOLO — Predikat laknat memang pantas disematkan kepada para pejabat yang mengingkari amanat. Para pejabat…