Ayah bek Timnas Indonesia Fachrudin, Daryoto, berfoto bersama istrinya, Wiwik, di rumahnya di Klaten sebelum berangkat ke Jakarta, Jumat (16/12/2016). (Ponco Suseno/JIBI/Solopos) Ayah bek Timnas Indonesia Fachrudin, Daryoto, berfoto bersama istrinya, Wiwik, di rumahnya di Klaten sebelum berangkat ke Jakarta, Jumat (16/12/2016). (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)
Jumat, 16 Desember 2016 23:40 WIB Ponco Suseno/JIBI/Solopos Klaten Share :

PIALA AFF 2016
Ayah Bek Timnas Fachrudin Saksikan Anaknya Berlaga Langsung di Thailand

Piala AFF 2016, bek timnas Fachrudin dapat dukungan langsung sang ayah.

Solopos.com, KLATEN — Telepon Daryoto, 57, berdering pada Jumat (16/12/2016). Suara seorang pria yang mengaku utusan PSSI terdengar cukup jelas.

“Nanti sore, bapak silakan terbang ke Jakarta. Besok pagi, bapak dan beberapa saudara yang lain akan bertolak ke Thailand untuk menyaksikan laga final Piala AFF 2016 di Thailand,” kata utusan dari PSSI itu.

Mendengar kabar tersebut, Daryoto kegirangan. Pria yang tak lulus SD ini akhirnya memperoleh kesempatan keluar negeri untuk menyaksikan anak kesayangannya membela Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2016. Daryoto merupakan ayah Fachrudin Aryanto yang menjadi bek Timnas Indonesia.

Berbagai persoalan administrasi kabarnya sudah diurus perwakilan PSSI di Jakarta. “Saya akan ke Thailand besok dengan anak mantu saya, Ismianto dan tetangga saya yang juga teman Fachrudin, yakni Kembar. Saya akan memberikan dukungan langsung untuk perjuangan anak saya. Sementara istri saya [Wiwik] akan menyaksikan laga final melalui layar kaca di rumah,” kata Daryoto yang di era 1980-an juga dikenal sebagai pemain sepak bola di kampungnya itu.

Jumat siang selepas Salat Zuhur, Daryoto mulai mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke Thailand. Daryoto hanya membawa beberapa pakaian dan celana masing-masing dua potong. Lantaran menjadi pendukung timnas, Daryoto  tak lupa membawa jersey timnas.

“Saya masih punya kostum timnas yang baru di lemari. Saya langsung pakai saja hari ini,” kata dia.

Daryoto mengatakan selalu mendukung cita-cita anaknya mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia Tenggara. Daryoto menceritakan anak nomor duanya, Fachrudin, merupakan anak lelaki satu-satunya.

Fachrudin saat ini sudah menempati rumah sendiri di Bakalan RT 002/RW 002, Ceper, Klaten. Rumah itu berjarak satu kilometer dari rumah orang tuanya di Koripan, Cetan, Ceper.

“Dalam setiap doa yang saya panjatkan, saya selalu mendoakan agar anak saya diberi kemudahan dan timnya diberi kemenangan. Selama mengikuti Piala AFF 2016, saya selalu mendoakan Timnas Indonesia dapat meraih juara I. Saya bangga dan terharu anak saya bisa membela nama bangsa,” kata dia.

Fachrudin kecil mulai belajar sepak bola di sekolah sepak bola (SSB) di Tambakboyo, Pedan. Saat itu, Fachrudin masih duduk di bangku SD. Saat SMP, Fachrudin mulai bermain hingga ke Wonogiri dan Bantul.

Lalu saat SMA, Fachrudin terus mengembangkan bakatnya hingga lolos seleksi sebagai pemain inti PSS Sleman. Fachrudin juga sempat membela Persepam Madura sebelum bergabung dengan Sriwijaya FC.

“Di sekolah, prestasi Fachrudin itu biasa-biasa saja. Dia memang suka sepak bola. Ke mana-mana saya selalu mendampinginya saat kecil. Berkat dikontrak di berbagai klub itu, Fachrudin juga sudah bisa membeli sawah dan rumah di sini. Pemain favorit Fachrudin, yakni John Terry yang bermain di Chelsea [liga Inggris],” kata dia.

Selama mengikuti Piala AFF 2016, keluarga Fachrudin selalu mengikuti pertandingan dari layar kaca. Pertandingan yang paling spesial bagi keluarga Fachrudin, yakni saat Timnas Indonesia melawan Timnas Filipina. Waktu itu, Fachrudin sukses menjebol gawang Timnas Filipina.

“Saat Fahcrudin membuat gol itu, ibunya sedang tidur. Begitu semua teriak-teriak Fachrudin yang mengegolkan, ibunya langsung bangun dan bergabung menonton di depan layar kaca,” kata Daryoto.

Ibu Fachrudin, Wiwik, 45, mengaku turut tegang saat Timnas Indonesia bermain di ajang Piala AFF 2016. Selama bertanding, sering kali ibunya justru terfokus berdoa untuk kemenangan Timnas Indonesia daripada melihat permainan sepak bolanya.

“Saya itu hanya berdoa saja saat melihat pertandingan. Yang penting Timnas Indonesia semoga bisa menang. Syukur-syukur anak saya bisa membuat gol,” katanya.

SOLO BAKERY, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kota Penyair Perlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (16/8/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1982,…