Foto Ilustrasi . (JIBI/Harian Jogja/Antara) Foto Ilustrasi . (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Jumat, 16 Desember 2016 17:55 WIB Arif Wahyudi/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Geng Pelajar Jadi Salah Satu Akar Masalah Kekerasan

Geng pelajar bisa menjadi akar masalah kekerasan pelajar di Jogja

Solopos.com, JOGJA – Sejumlah kalangan menilai kekerasan di kalangan remaja atau yang saat ini populer disebut aksi klithih perlu mendapat perhatian serius. Sayangnya, upaya untuk mencegah semakin maraknya aksi klithih selama ini dianggap cuma mentok di meja diskusi saja.

Ketua Umum Dewan Kebudayaan Kota Jogja Achmad Charis Zubair mengungkapkan, harus ada upaya nyata yang jelas sehingga aksi kekerasan ini bisa ditumpas habis.

“Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi, setelah ini harus ada upaya nyata. Diskusi ini harus bisa menjadi langkah nyata untuk mendesak pemangku kepentingan agar lebih serius dalam mengatasi masalah ini,” paparnya dalam diskusi Darurat Klithih yang berlangsung di Kantor DPD DIY, Kamis (15/12/2016) siang.

Achmad menyebut, insiden yang menimbulkan korban jiwa seperti peristiwa penusukan terhadap siswa SMA Muhammadyah 1 Jogja bukan lagi termasuk kategori kenakalan remaja. Menurutnya, hal tersebut sudah merupakan kejahatan serius atau bentuk kriminalitas sehingga hukuman pidana mutlak dilakukan tanpa memandang status pelaku masih di bawah umur.

“Maka dari itu kami sependapat dengan pandangan Ngarso Dhalem yang menegaskan, pelaku kejahatan harus dihukum meski statusnya masih sekolah,” jelas dia.

Jika tidak ada langkah serius, dia meyakini aksi kriminalitas di kalangan pelajar ini bisa semakin berkembang luas. Apabila kondisi ini berlarut tentu saja mengancam masa depan bangsa karena pelaku maupun korban merupakan kalangan pelajar yang menjadi aset pembangunan bangsa.

Lebih lanjut Achmad merumuskan dua aspek untuk memutus mata rantai aksi klitih ini, yakni aspek jangka pendek dan jangka panjang.

Aspek jangka pendek bisa dilakukan dengan mengirim pelaku ke penjara tanpa memandang statusnya sebagai pelajar. Tujuannya menurut Achmad adalah memberikan shock terapi bagi pelaku yang sudah tertangkap maupun yang masih berkeliaran agar jera.

Kedua harus dicegah balas dendam. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah SARA. Semua pihak harus bisa meredam.

“Perlu diperhatikan serius, isu SARA saat ini sedang sensitif-sensitifnya. Jangan sampai permusuhan antar siswa yang berujung pada jatuhnya korban ini akhirnya menjadi masalah SARA yang meluas,” harap dia.

Kemudian ada lagi langkah jangka menengah. Sisi yang bisa dilakukan menurut dia adalah mengoptimalisasi peran aparat keamanan, hukum dan pemerintah dalam menertibkan hal yang berlaitan dengan tata tertib dan perundang-undangan.

Terakhir adalah aspek jangka panjang. Ada beberapa sisi yang harus ditekankan.
Ahmad menekankan, aksi klithih bisa dicegah apabila ada ruang ekspresi yang disesuaikan dengan  perkembangan umur maupun jiwa para pelajar.

Evaluasi terhadap lembaga pendidikan formal pun juga dianggap penting menurutnya. Ahmad menyoroti pendidikan saat ini banyak  yang tidak sesuai dengan pengembangan potensi diri dan karakter.

“Sekarang sekolah terlalu kognitif. Siswa hanya dikejar untuk mendapat nilai akademik bagus. Sisi aveksi diabaikan, padahal itu sangat penting,” imbuh dia.

Sementara itu dalam diskusi itu juga menghadirkan sejumlah orangtua, guru dan para siswa sekolah menengah.

Salah satu wali murid, Hazwan Iskandar Jaya, dalam kesempatan itu menceritakan pengalaman nyata yang dilihat anaknya di sekolah.

Dari penuturan anaknya, dia mengetahui di suatu sekolah ada geng pelajar. Di situlah yang menjadi akar masalah. Masing-masing anggota saling berlomba untuk mendapatkan pengakuan jatidiri dari rekan sesama geng.

“Jadi jika anggota ini sudah berhasil membacok orang, entah itu musuh atau orang tidak dikenal sekali pun maka akan mendapat nilai plus berupa pengakuan kehebatan di antara para genk itu,” paparnya menceritakan kisah yang dilihat anaknya.

lowongan kerja
lowongan kerja Grains & Dough restaurant, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Bung Karno, Lenso, Cha Cha Cakrabirawa

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (2/6/2017). Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah titusclurut@yahoo.co.uk Solopos.com, SOLO — Cakrabirawa adalah nama kesatuan pasukan penjaga Istana…