Waduk Gajah Mungkur (WGM) terus mengalami sedimentasi. Foto diambil Kamis (15/12/2016). Waduk Gajah Mungkur (WGM) terus mengalami sedimentasi. Foto diambil Kamis (15/12/2016).
Jumat, 16 Desember 2016 15:40 WIB Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

6 Juta Meter Kubik Sedimen Mengendap di WGM Wonogiri

Meski sudah dikeruk, penumpukan sedimen di WGM masih cukup tinggi.

Solopos.com, WONOGIRI — Sedimentasi terus terjadi di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri. Ada sekitar 6 juta meter kubik sedimen yang mengendap di dasar WGM. Pengerukan sedimen ditargetkan selesai 2018.

Pelaksana Teknik Danau Situ Embung (DSE) Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Yoga Darmawan, mengatakan hingga saat ini pengerukan yang telah dilakukan di waduk tersebut sudah mengurangi sekitar 1,5 juta meter kubik sedimen. “Target tahun depan sudah mengeruk sekitar 2,2 juta meter kubik sedimen. Total sedimen di WGM 6 juta meter kubik,” kata dia saat ditemui wartawan di WGM dalam kegiatan Workshop Peningkatan Pengawasan Pembangunan dan Rehabilitasi Prasarana Irigasi, Kamis (15/12/2016).

Dia mengatakan persoalan yang perlu diperhatikan adalah banyak sedimen yang menumpuk di sekitar intake. Jika sedimen tersebut menutup intake akan mempengaruhi kinerja waduk.

Di sisi lain, Kepala Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III Jasa Tirta Wilayah Sungai Bengawan Solo, Hermawan Cahyo Nugroho, mengatakan sedimentasi sulit dihentikan. Kondisi di daerah aliran sungai (DAS), khususnya DAS Keduang, banyak lahan gundul sehingga menyumbang sedimen cukup banyak ke WGM.

“Penelitian terakhir setiap tahun sedimentasi bertambah antara 1 juta-1,5 juta meter kubik. Tapi kondisi tersebut hanya dapat dikendalikan,” kata dia.

Beberapa langkah yang telah dilakukan untuk mengendalikan sedimentasi adalah dengan penghijauan. Dengan banyaknya pohon di DAS diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap tanah dari kucuran hujan sehingga dapat mengurangi sedimentasi. Kegiatan penghijauan telah terkoneksi dengan seluruh lembaga maupun instansi pemerintahan.

Sementara itu, menurut Kabid Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Sigit Santoso, persoalan bendungan tidak bisa hanya ditangani secara teknis. “Perlu kerja sama juga dengan masyarakat. [Sedimentasi] di Wonogiri cukup parah tapi pengaruhnya dari Keduang. Banyak lahan yang digunakan untuk tanaman seperti sayur, sehingga banyak sedimen,” kata dia.

Bagian Sirkulasi SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Dirawat dan Merawat Cendekiawan Soedjatmoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (19/8/2017). Esai ini karya Nur Fatah Abidin, mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah ikbenfatah@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Rabu, 15 Agustus 2017, pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Republik Indonesia kepada delapan…