Dua orang sedang melakukan aktivitas foto di area dalam Situs Sokoliman. foto diambil beberpa waktu lalu. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Dua orang sedang melakukan aktivitas foto di area dalam Situs Sokoliman. foto diambil beberpa waktu lalu. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 12 Desember 2016 10:20 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

WISATA GUNUNGKIDUL
Melihat Peninggalan Peradaban Megalitikum di Situs Sokoliman

Wisata Gunungkidul di Sokoliman semakin ramai dikunjungi wisatawan

Solopos.com, GUNUNGKIDUL- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul melakukan revitalisasi terhadap Situs Sokoliman di Dusun Sokoliman II, Bejiharjo, Karangmojo. Lokasi penampungan yang semula terlihat tak terawat itu kini disulap dan telah berubah bak sebuah taman yang memadukan peradaban modern dengan peninggalan kebudayaan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Situs Sokoliman di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo memiliki nilai sejarah yang tinggi. Di area seluas kurang lebih setengah hektare ini, puluhan artefak peradaban dengan nilai sejarah yang yang tak ternilai. Di lokasi ini terdapat beberapa artefak mulai dari peti kubur batu hingga menhir yang berasal dari perdaban zaman batu besar (megalitikum), di mana manusia belum mengenal tulisan, namun dari sisi peradaban sudah terbilang modern karena artefak yang dihasilkan .

Meski sudah berada lama dan berada tidak jauh dari Gua Pindul, keberadaan Situs Sokoliman belum banyak dikenal oleh masyarakat secara luas, baik itu pengunjung wisata atau pun warga sekitar. Namun pasca dibangun, lokasi ini mulai dikunjungi warga baik yang berasal dari wilayah sekitar atau pengunjung dari luar daerah.

Memasuki kawasan seluas kurang lebih setengah hekatare ini, pengunjung akan dibuat takjub dengan tata bangunan yang merupakan perpaduan dari artefak kuno dengan bangunan terkini.

Tepat di depan pintu masuk, terdapat bangunan yang menyerupai menhir yang berdiri tegak berjumlah lima tiang. Bangunan ini merupakan bagian dari proses revitalisasi yang merupakan ornamen pendukung keberadaan artefak asli dari peradaban zaman megalitum.

Tak hanya itu, di lokasi ini juga dibangun beberapa gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat oleh para pengunjung. sementara itu, di ujung barat terdapat bangunan sebagai aula utama yang bisa digunakan sebagai tempat pertemuan.

Di lokasi ini tidak hanya berdiri deretan gazebo dan ornamen-ornamen baru, namun lokasi taman juga ditata dengan benar. Dulu sebelum dibangun, di ruang-ruang yang kosong hanya berupa tanah lapang biasa, namun saat ini sudah diisi dengan rerumputan sehingga kesan angker perlahan mula hilang.

Untuk mempercantik lokasi situs, pengembang juga melengkapi dengan sejumlah lampu sorot sebagai upaya penerangan di malam hari. Sedang untuk area jalan, dipasangi dengan tatanan batu putih yang menghubungkan antara satu artefak ke artefak yang lain.

Meski ada upaya perobakan secara menyeluruh, namun bagian dari artefak kuno tetap dijaga. Misalnya di bagian kanan pintu masuk terdapat kumpulan menhir yang tersusun dengan rapi dengan posisi rebah, sedang di sisi kiri pintu masuk terdapat menhir berbentuk patung yang berdiri tegak serupa dengan patung gupolo yang sering dijumpai di area kantor pemerintahan.

Perpaduan dari bangunan kuno dengan modern ini menjadi kombinasi yang indah sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Berkat adanya rehabilitasi ini, lokasi ini semakin terkenal dan banyak pengunjung yang mulai berdatangan.

Menurut pengakuan salah seorang warga Sokoliman, Sutinah yang tinggal tepat di depan area situs mengatakan, khalayak ramai sudah mulai berkunjung. Hal ini tidak lepas dari proses pembangunan yang dilakukan oleh Pemkab Gunungkidul.

Dia bercerita, saat sebelum dibangun kebanyakan yang datang hanya berasal dari kalangan akademisi untuk melakukan penelitian. Namun saat itu, rata-rata pengunjung berasal dari masyarakat umum. “Kalau dulu hanya sedikit, tapi sekarang sudah bertambah banyak, terutama saat hari libur,” katanya kepada Harian Jogja, di akhir pekan lalu.

Sutinah menjelaskan, kedatangan pengunjung ini merupakan pertanda yang baik, karena Situs Sokoliman mulai dikenal. Namun demikian, ia berharap agar pengunjung bisa berlaku sopan dengan menjaga keberadaan lokasi tetap bersih dari aksi corat coret.

Hal senada diungkapkan oleh pemerhati sejarah di Gunungkidul Marku Yuwono. Menurut dia, keberadaan Situs Sokoliman harus benar-benar dijaga karena artefak yang tersimpan di dalamnya memiliki nilai yang tak terhingga. “Harus dijaga dengan benar karena koleksinya sangat tak ternilai dan merupakan salah satu peradaban tinggi di Indonesia,” katanya.

Dia mengungkapkan, pasca-dibangun, lokasi situs sudah banyak berubah. Namun demikian, keaslian koleksi tetap terjaga meski ada tambahan bangunan baru di sekitarnya. “Saya kira ini bisa menjadi destinasi wisata baru. hanya saja, yang perlu diperhatikan dengan semakin banyaknya pengunjung maka berpotensi akan adanya kerusakan sehingga harus ada perhatian bersama baik dari pengunjung atau pun pemerintah,”  tuturnya.

Lowongan Pekerjaan
Marketing Avian Brands, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


3

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…