Jogja
Kamis, 13 Oktober 2016 - 09:55 WIB

TRADISI KULONPROGO : Ribuan Orang Padati Labuhan Puro Pakualaman di Pantai Glagah

Redaksi Solopos.com  /  Nina Atmasari  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ribuan warga memadati upacara labuhan oleh Puro Pakualaman di Pantai Glagah, Temon, Rabu (12/10/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Tradisi Kulonprogo berupa labuhan Puro Pakualaman digelar di Pantai Glagah

Harianjogja.com, KULONPROGO-Ribuan warga dari berbagai daerah memadati upacara labuhan yang digelar oleh Puro Pakualaman di Pantai Glagah, Rabu (12/10/2016). Sejumlah warga tersebut kemudian berebut hasil bumi di gunungan yang dilarung ke laut selatan tersebut.

Advertisement

Ritual setiap tanggal 10 Suro tersebut diawali dengan upacara di pesanggarahan yang dilanjutkan dengan kirab menuju pendopo yang terletak di bibir Pantai Glagah. Kirab diikuti oleh puluhan kerabat Puro Pakualaman yang dikawal Bergodo Lombok Abang, Bergodo Plangkir, dan sejumlah masyarakat yang memang sengaja datang untuk ikut memikul gunungan tersebut.

Rombongan membawa 3 buah gunungan yang terdiri dari hasil bumi berupa beragam sayuran, padi serta sejumlah barang-barang bekas raja. Mas Priyo Sestro Dirjo, abdi dalem Puro Pakualaman menyatakan apresiasinya atas tingginya respon masyarakat untuk ritual tradisi ini. Terlebih lagi, ritual labuhan ini tidak jatuh di hari libur.

“Setiap tahun tetap ramai meskipun bukan hari libur,” jelasnya ketika ditemui di lokasi.

Advertisement

Labuhan sendiri diartikan sebagai kegiatan untuk mengembalikan segala sesuatunya kembali ke alam yang disertai rasa syukur atas rezeki dari Tuhan. Upacara dipimpin oleh KPH Indrokusumo serta dihadiri oleh GPH Wijoyo Harimurti serta sejumlah jajaran Dinas Kebudayaan DIY. Setelah prosesi, gunungan kemudian dilarung ke laut dan langsung dikerubuti oleh masyarakat yang hadir meski ombak tergolong tinggi.

Ida Puwasari, salah satu pengunjung dari Gamping, Sleman mengatakan bahwa ia memang sengaja datang untuk menyaksikan labuhan tersebut. “Baru pertama kali melihat, memang sengaja berangkat pagi,”jelasnya. Terlebih lagi, hasil gunungan dipercaya akan membawa berkah jika berhasil dibawa pulang.

Ia sendiri berhasil mendapatkan sejumlah kacang panjang dan bawang merah setelah bersusah payah berdesak-desakan. Namun, gadis ini sempat terseret ombak meski kemudian ditolong oleh salah satu warga yang berada di sekitarnya.

Advertisement

Selain prosesi labuhan, masyarakat juga dihibur dengan panggung terbuka yang menampilkan kesenian shalawatan dari Dusun Tegalrejo, Janten, Temon dan penampilan angguk putri dari Kulur, Temon.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif