Jumat, 9 September 2016 19:25 WIB Ahmad Baihaqi/JIBI/Solopos.com Nada Share :

Cerita Maya Hasan Main Harpa hingga Tangan Berdarah

Seniman harpa ternama, Maya Hasan berkunjung ke Griya Solopos.

Solopos.com, SOLO – Siapa yang tak kenal dengan Maya Hasan? Wanita 44 tahun ini merupakan pemain harpa Indonesia yang sudah malang melintang baik dalam negeri dan internasional.

Maya pun lantas sedikit mengulas ceritanya memilih bermain harpa ketimbang alat musik lainnya. Hal itu diutarakan perempuan bernama lengkap Maya Christina Hasan ini dalam acara Bincang Spesial di Solopos FM, Jumat (9/9/2016).

“Awal main harpa itu setelah lulus SMP. Saat itu melihat gambar Harpa dan tak tahu itu alat musik apa. Hingga akhirnya bertanya kepada orang tua dan tertarik. Orang tua pun mengizinkan untuk les,” ujarnya.

Maya mengungkapkan dia sempat les piano dan biola. Namun dia merasa kurang cocok hingga akhirnya tak melanjutkannya. Dari awal dia memang sosok yang suka antimainstream. Dia menceritakan semua kakak-kakaknya itu bermain musik namun tak ada yang bermain harpa. “Saya ini bungsu dari lima bersaudara. Semua kakak saya main musik mulai dari gitar hingga piano. Bisa dibilang saya memilih harpa karena ingin beda dari mereka,” tutur perempuan yang kini juga membuka bisnis kuliner hainan dengan nama Tan Kwee ini.

Diakui Maya, bermain Harpa sangat identik dengan musik klasik. Namun dia sudah membuktikan bahwa Harpa bisa dimainkan untuk genre musik. Mulai dari jazz, keroncong, rock, RnB, hingga dangdut. Memainkan berbagai genre itu memagn menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya.

Dia kemudian menjelaskan untuk bermain harpa memang dibutuhkan power yang kuat. Meski cara memainkannya cenderung statis tetap dibutuhkan tenaga yang kuat. Dia menjelaskan bermain harpa tak hanya menggunakan otot jari, otot punggung juga berpengaruh karena bermain harpa harus tegap. “Kalau untuk saya, push up itu wajib.”

Maya berujar pernah memiliki pengalaman tak terlupakan saat akan tampil dengan harpa. Waktu itu dia sedang menggelar geladi bersih untuk tampil di sebuah pertunjukan. Dia merasakan ada yang mengalir di tangannya.

“Setelah saya lihat, darah sudah meleleh di jari-jari saya,” ujar Maya. Namun sebagai seorang profesional dia tetap tampil walau apapun yang terjadi.

Selain itu, body language juga sangat diperlukan saat bermain harpa lantaran cara bermainnya yang statis. Maya sendiri terbantu dengan keaktifan dirinya bermain teater terkait hal itu. “Beberapa kali perform di teater, sempat menjadi pemeran utama juga. Kalau soal korelasi teater dengan harpa, ya mungkin bermain teater membuat saya lebih banyak mengenal body language untuk digunakan saat bermain harpa yang memang statis,” ungkapnya.

Maya Hasan sendiri menjadi salah satu penampil di Solo International Performing Arts (SIPA). Dia tampil dalam pembukaan SIPA di Benteng Vrederburg, Solo, Kamis (9/9/2016). Penampilan Maya saat itu pun menghipnotis para penonton yang hadir.

“Luar biasa bisa tampil di SIPA. Ketika dihubungi untuk tampil saya langsung bilang yes,” jawab Maya saat ditanya kesannya tampil di SIPA.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Memaknai Imlek, Memulihkan Bumi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (15/2/2018). Esai ini karya Hendra Kurniawan, dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menekuni kajian sejarah Tionghoa. Alamat e-mail penulis adalah hendrayang7@tgmail.com. Solopos.com, SOLO–Syahdan ketika Dinasti Qing runtuh dan mengakhiri sejarah…