Ilustrasi cable car alias kereta gantung (sentosa.com) Ilustrasi cable car alias kereta gantung (sentosa.com)
Rabu, 31 Agustus 2016 17:15 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

WISATA BOYOLALI
Seno Akan Bangun Kereta Gantung di Merapi-Merbabu, Investasi Rp100 Miliar

Wisata Boyolali, kereta gantung senilai Rp100 miliar itu akan menjadi objek wisata termegah di Jateng.

Solopos.com, BOYOLALI–Bupati Boyolali, Seno Samodro, bakal membangun proyek megah berupa kereta gantung di lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Proyek yang ditaksir menelan anggaran Rp100 miliar itu diklaim bakal menjadi satu-satunya objek wisata termegah di Jawa Tengah.

“Mohon izin Pak Gubenur, Boyolali ini sudah bikin masterplan mau bikin kereta gantung di Lereng Merapi Merbabu. Kereta ini akan jadi objek wisata termegah di Jateng. Mohon maaf, kalau Semarang belum punya [kereta gantung], Boyolali telah mendahului,” ujar Seno di hadapan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, disaksikan ratusan kepala desa (Kades) dari berbagai daerah di Nusantara di Hotel Gambir Anom, Boyolali, Selasa (30/8/2016).

Seno menjelaskan lokasi wisata kereta gantung berada di Desa Suroteleng, Kecamatan Selo. Pihaknya sudah meminta Kades setempat untuk menyiapkan lahan serta konsep ke depannya. Proyek ditaksir menelan anggaran senilai Rp100 miluar. “Lantas, dari mana anggaran itu?” tanya Seno retoris. “Dari dana desa dan investor,” ujarnya.

Seno mengklaim kereta gantung di lereng Merapi Merbabu akan menjadi satu-satunya objek wisata termegah di Jawa Tengah. Selama ini, kata dia, Jawa Tengah belum memiliki objek wisata sekelas impiannya itu. Dan dengan dana desa yang cukup besar serta masuknya sejumlah investor, kata dia, Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, akan menjadi desa wisata dan mengangkat perekonomian warga.

Praktisi branding kota/daerah Soloraya, Irfan Sutikno, menilai program mercusuar dari Bupati Seno tersebut dilihat dari kacamata potensi daerah, masih sangat relevan. Bahkan, imbuhnya, jika hal itu benar-benar diwujudkan maka Boyolali akan menjadi ibu kota destinasi wisata di Soloraya.

“Boyolali ini secara lokasi masih sangat strategis, berada di antara Solo, Semarang, dan Jogja. Lahan juga masih sangat luas. Ada potensi wisata yang cukup besar di sana,” ujarnya.

Apalagi, sambung Irfan, wilayah Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar) telah dikukuhkan menjadi satu di antara 10 destinasi wisata unggulan di Nusantara. Dengan mengusung branding “Java” sebagai merek wisata, maka program Seno itu sangat rasional. “Cuman, pertanyaannya apakah Pak Bupati benar-benar memperhitungkan secara matang teknis keuangannya? Kalau pakai dana APBD kan rasanya tak mungkin. Kalau investor, ya bisa saja itu,” paparnya.

Menurut Irfan, Soloraya masih minim destinasi wisata yang kuat. Minimnya destinasi wisata ini akan menjadi masalah jika daerah hanya mampu menggenjot branding, namun mengabaikan produk wisatanya. “Nah, kereta gantung ini jika benar-benar terealisasi, sangat luar biasa. Boyolali akan jadi ibu kota destinasi tourism. Saya berpikir positif semoga ini benar-benar terealisasi. Kalau tidak jadi, saya kasihan Pak Bupatinya,” ujarnya.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…