News
Rabu, 31 Agustus 2016 - 12:00 WIB

SIDANG KOPI BERSIANIDA : Keluarga Tolak Autopsi, Pembuktian Pembunuhan Mirna Tak Maksimal

Redaksi Solopos.com  /  Haryo Prabancono  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Sidang kasus es kopi berujung maut dengan terdakwa Jessica, Rabu (15/6/2016). (detikcom)

Sidang kopi bersianida ke-16 kasus pembunuhan Wayan Mirna menghadirkan saksi ahli Budi Sampurna.

Solopos.com, JAKARTA — Sidang kopi bersianida ke-16 kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016). Dalam sidang kali ini menghadirkan saksi ahli kedokteran forensik RSCM, dr. Budi Sampurna.

Advertisement

Saksi ahli Budi Sampurna yang berpengalaman menangani kasus racun Munir beberapa tahun lalu, menjelaskan tidak ikut menangani pemeriksaan jenazah Mirna tapi mendapatkan data untuk dianalisis.

Dalam prosedur autopsi, awalnya jenazah Mirna tidak diautopsi karena keluarga keberatan. Tapi keluarga Mirna, meminta sampel cairan lambung Mirna untuk dianalisis. Tidak ada autopsi membuat pemecahan kasus kematian Mirna menjadi lebih sulit. Untuk mengetahui penyebab kematian, bisa dilakukan dengan dua cara selain autopsi. Pemeriksaan forensik jenazah Mirna cukup baik meski tidak maksimal.

Advertisement

Dalam prosedur autopsi, awalnya jenazah Mirna tidak diautopsi karena keluarga keberatan. Tapi keluarga Mirna, meminta sampel cairan lambung Mirna untuk dianalisis. Tidak ada autopsi membuat pemecahan kasus kematian Mirna menjadi lebih sulit. Untuk mengetahui penyebab kematian, bisa dilakukan dengan dua cara selain autopsi. Pemeriksaan forensik jenazah Mirna cukup baik meski tidak maksimal.

Budi Sampurna menjelaskan tidak ada peraturan di Indonesia yang mewajibkan autopsi dalam setiap kasus bila keluarga tidak mau penyidik juga tak bisa memaksa. Autopsi memang diperlukan untuk mengetahui penyebab kematian secara pasti. Autopsi diperlukan apabila digunakan untuk keperluan penyidikan.

Jaksa penuntut umum (JPU) lalu bertanya, apakah hasil visum et repertum cukup untuk menentukan kematian Mirna. Budi Sampurna mengatakan, hal itu sulit dijawab dan bergantung pada hasil pemeriksaan.

Advertisement

“Pilihan ini di Indonesia tidak lazim kita lakukan. Akan tetapi dalam keadaan memaksa, usulan itu menarik. Karena kalau hanya pemeriksaan luar, tidak diotopsi, kita tidak mendapatkan apa-apa. Dengan melakukan tindakan ini setidaknya sudah ditemukan racunnya,” tambahnya.

Bila dokter hanya melakukan pemeriksaan luar, tidak akan bisa membuktikan adanya racun di dalam tubuh. Dalam otopsi, dokter memeriksa kerongkongan dan lambung untuk kepastian Mirna diracun.

Dalam otopsi tidak mungkin memeriksa darah karena jenazah sudah diawetkan dengan formalin. Menurut Budi seharusnya pemeriksaan organ dalam seperti lambung dilakukan empat jam setelah kematian. Isi lambung masih ada racun sianida karena tidak terkena formalin dalam empat hari setelah kematian.

Advertisement

JPU juga bertanya mengenai kemungkinan mendapatkan bukti kematian. lalu Budi menjawab, di negera lain seperti Swiss, untuk melakukan pemeriksaan jenazah dan mengetahui penyebab kematian, bisa dilakukan dengan CT scan dan MRI. Tapi untuk mengetahui penyebab kematian secara mantap atau golden standar memang harus dilakukan otopsi.

Gejala Keracunan Sianida

Jaksa lalu bertanya tentang gejala keracunan Sianida, Budi Sampurna lalu menjelaskan gejala keracunan seperti terkena sianida mulut akan terasa panas, bibir dan jari kebiruan, lambung nyeri, dan kekurangan oksigen. Dampak paling buruk dari sianida adalah menyerang otak yang kekurangan oksigen dan jantung.

Advertisement

Saat terkena racun sianida, jantung mengalami gangguan ritme tapi tidak ada indikasi adanya serangan jantung. Untuk menemukan penyebab kematian Mirna, sebenarnya dokter bisa menemukan kelainan di otak.

Kekurangan oksigen membuat orang bernapas secara cepat. Sianida memang menyerang organ tubuh yang membutuhkan oksigen. Korban yang terkena racun sianida akan mengalami kejang-kejang, mual, muntah dan kolaps.

Meski keracunan sianida, pembuluh darah otak Mirna tidak ada yang pecah. Melihat ciri-ciri keracunan, Mirna meninggal karena sianida setelah cairan tersebut masuk ke dalam tubuh yang menyebabkan korosi di lambung.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif