Sport
Rabu, 31 Agustus 2016 - 02:00 WIB

Legenda Bulu Tangkis Prihatin Prestasi Tunggal Putri

Redaksi Solopos.com  /  Ahmad Baihaqi  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Linda Wenifanetri (Badmintonindonesia.org)

Tunggal putri Indonesia saat ini belum menunjukkan performa yang mumpuni.

Solopos.com, JAKARTA – Sejumlah legenda bulu tangkis Indonesia mengaku prihatin dengan prestasi tunggal putri Tanah Air saat ini. Pasalnya mereka tak banyak berprestasi di level international, terutama Olimpiade.

Advertisement

Setelah era Susi Susanti yang meraih emas di Olimpiade Barcelona 1992, kejayaan tunggal putri terus menurun. Mia Audina yang mendapat tongkat estafet dari Susi mampu meraih perak Olimpiade 1996 di Atlanta. Kemudian muncul Maria Kristin yang mampu menyumbang perunggu di Olimpiade Beijing 2008.

Tapi setelah itu, tunggal putri Indonesia mengalami kemunduran. Di Olimpiade 2016, Indonesia mengandalkan Linda Weniafanetri. Tapi, Linda tak mampu berbuat banyak karena sudah tersingkir di babak penyisihan grup.

“Saya prihatin dan geregetan karena dibanding zaman Susi dulu, gaya permainan lawan lebih susah dari sekarang,” kata bintang bulu tangkis Indonesia era 1980-an, Ivana Lie, seperti dikutip dari Antaranews, Selasa (30/8/2016).

Advertisement

Ivana lantas menuturkankelemahan tunggal putri Tanah Air. Menurutnya kelemahan para tunggal putri saat ini terletak pada ketahanan dan mentalitas. “Kelemahan pemain tunggal putri kita itu ada pada sisi endurance [ketahanan]. Endurance dan mental kadang-kadang berkaitan,” tuturnya.

“Kalau pemain kita main penuh di game pertama, maka di game kedua langsung menurun. Lalu kekurangan di ketahanan memengaruhi mentalnya. Otomatis dia jadi main ragu-ragu. Main reli panjang takut, lalu jadinya mau main cepat, kemudian tapi mati sendiri,” jelas Ivana.

Sementara itu, Minarti Timur, peraih medali Perak Olimpiade Sydney 200 di nomor ganda campuran menyebut tunggal putri Indonesia sudah memiliki skill yang mumpuni. Tapi perlu ditambahi dengan kerja keras di latihan fisik dan teknik. “Mereka harus mengejar dengan latihan keras untuk fisik dan teknik, mengubah gaya hidup dengan mengatur semua jam tidur dan jam makan,” tuturnya.

Advertisement

“Setelah Mia, kita kosong. Untuk mengejar generasi berikutnya itu membutuhkan waktu yang panjang. Makanya kita jangan hanya mempersiapkan di lapis pertama saja lalu selanjutnya bolong. Tetapi harus berlapis-lapis,” timpal Susi Susanti.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif