Yatini, Ibunda Zainal Habibi, menunggui anak bungsunya yang terbaring di Bangsal Anggrek RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen, Senin (8/8/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Yatini, Ibunda Zainal Habibi, menunggui anak bungsunya yang terbaring di Bangsal Anggrek RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen, Senin (8/8/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Senin, 8 Agustus 2016 19:40 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

KISAH TRAGIS
Bayi Umur 3 Bulan Berjuang Hidup Dengan Selang Oksigen dan Infus

Kisah tragis menimpa seorang bayi berusia 3 bulan di Sragen.

Solopos.com, SRAGEN–Seorang bayi mungil terbaring tak berdaya di ranjang besi Bangsal Anggrek RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen. Bayi itu bernapas keras dengan bantuan selang oksigen yang menempel di hidungnya. Perutnya terlihat kembang kempis. Tangan kirinya dipasang jarum untuk memasukan cairan infus ke tubuhnya. Tubuhnya juga ditempel alat khusus untuk mendeteksi aktivitas jantungnya. Aktivitas jantung itu terekam dalam monitor elektrokardiograf yang diletakkan di samping tempat tidurnya.

Bayi yang baru berumur tiga bulan itu bernama Zainal Habibi. Ia putra kedua pasangan Purwoko dan Yatini, warga Dukuh Mantup RT 003, Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, Sragen. Zainal masuk RSUD pada Jumat (5/8/2016) lalu. Ia mengalami dehidrasi dan indikasi kelainan jantung.

Yatini duduk di samping anaknya sembari melihat kondisi bayi yang memprihatinkan itu. Kedua nenek Zainal, Sriningsih, 57, dan Samiyem, 70, ikut menunggui bayi itu.

Sriningsih lebih mengerti tentang kondisi bayi itu karena ikut mengurus bayi itu sejak kecil. Sementara Samiyem, ibu kandung Yatini, tinggal Dukuh Bogolan RT 003, Desa Jatitengah, Sukodono. Yatini sulit diajak komunikasi sehingga tak bisa mengisahkan peristiwa yang menimpa anak bungsunya. Maklum, Yatini tidak lulus sekolah dasar. Demikian pula dengan Purwoko juga bernasib hampir sama dengan istrinya.

“Kelainan pada kesehatan si bayi terjadi sejak dalam kandungan. Waktu di kandungan, ibunya kesakitan dan sempat dibawa ke RSUD ini. Bahkan lahirnya pun lewat jalan operasi. Adik lahir dengan bobot 2,5 kg dan menjalani perawatan di inkubator selama sepekan. Kemudian dibawa pulang,” ujar Sriningsih saat berbincang dengan Solopos.com, Senin siang.

Sri mengisahkan beberapa hari lalu, bayi itu tak mau minum air susu ibu (ASI) dan napasnya juga tersengal. Saking tidak mau minum ASI, kata dia, si bayi juga tidak diberi minum apa-apa hingga akhirnya dehidrasi. “Namanya juga orang tidak tahu. Akhirnya, si bayi dibawa ke RSUD ini. Sekarang berat badannya berkurang. Yang awalnya 3,4 kg tinggal 3 kg. Kalau sekarang saya tidak tahu beratnya. Kasihan anak itu. Kami berharap ia segera sembuh dan kembali normal. Kakaknya normal saat lahir,” katanya.

Direktur Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sragen, Ronny Megas, sempat mengecek kondisi Zainal. Dia berkoordinasi dengan Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (UPTPK) Sragen untuk mengkaver kebutuhan biaya pengobatan bayi itu.

“Semua biaya pengobatan ditanggung UPTPK lewat kartu saraswati. Kondisi si bayi memang sudah kritis karena mengalami dehidrasi berat. Untuk biaya hidup keluarga yang menunggui di RSUD nanti dibantu dari Lazismu. Kami berdoa agar Adik Zainal segera sembuh dan normal kembali,” harapnya.

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…