RAWAN BENCANA -- Air menggenang di dalam Pasar Harjodaksino, Solo, seusai terjadinya hujan beberapa waktu lalu. Kondisi pasar yang dinilai rawan mengalami berbagai macam bencana membuat Dinas Pengelolaan Pasar untuk kali pertama menganggarkan dana tanggap darurat untuk antisipasi. (JIBI/SOLOPOS/dok)
Rabu, 3 Agustus 2016 16:40 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

PASAR TRADISIONAL SOLO
Ini 5 Pasar Yang Sulit Lepas dari Pedagang Oprokan

Pasar tradisional Solo, Dinas Pengelolaan Pasar menyebut lima pasar sulit keluar dari pedagang oprokan.

Solopos.com, SOLO–Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Solo mencatat sedikitnya lima pasar tradisional di Kota Bengawan sulit lepas dari bayang-bayang keberadaan pedagang oprokan yang menggelar dagangan di sekitar kompleks pasar.

Kabid Pengelolaan PKL DPP Solo, Herymul, mengatakan selain di Pasar Sidodadi, pedagang oprokan rutin memadati kawasan di sekitar Pasar Harjodaksino, Pasar Legi, Pasar Nusukan, dan Pasar Kadipolo. Sebagian besar pedagang oprokan tersebut menjual bahan konsumsi, seperti makanan, sayuran, buah-buahan, bumbu dapur, hingga daging atau ikan segar.

“Pedagang oprokan mudah ditemui di pasar tradisional yang punya karakteristik pedagangnya berjualan bahan konsumsi. Paling ketara, mereka ada di Pasar Harjodaksino, Pasar Legi, Pasar Sidodadi, Pasar Kadipolo, termasuk Pasar Nusukan,” kata Herymul saat dimintai informasi Solopos.com soal pasar yang dikerubungi pedagang oprokan, Rabu (3/8/2016).

Herymul menegaskan pedagang oprokan yang menempati lahan di sekitar pasar di luar kios dan los yang tersedia tentu melanggar aturan. Keberadaan pedagang oprokan tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat umum. Dia mengimbau kepada para pedagang untuk menghargai kepentingan masyarakat lain. DPP mendorong pedagang untuk masuk berjualan ke dalam pasar.

“Bukan hanya di Pasar Sidodadi, pedagang oprokan yang berjualan di luar kios dan los banyak ditemui juga di Pasar Harjodaksino. Jumlahnya mencapai seratusan lebih. Mereka berjualan di sepanjang Jl. Dewi Sartika. Pedagang memang berjualan hanya sampai siang hari, namun tetap harus mematuhi aturan,” jelas Herymul.

Disinggung soal penataan pedagang oprokan di luar kios dan los, Herymul menyampaikan, DPP jelas sudah mencoba, terutama langsung lewat pengelola atau lurah pasar masing-masing. Dia mengakui penataan pedagang oprokan tersebut cukup susah lantaran banyak dari mereka yang nekat kembali berjualan di tempat semula.

“Pertama memang menjadi kewenangan lurah pasar masing-masing untuk penataan. Lurah yang paling tahu kondisi di lapangan. Yang jelas DPP tetap mendorong pedagang untuk tidak berjualan secara sembarangan, terutama di badan jalan meski hanya pagi hari,” papar Herymul.

Ditemui terpisah, Lurah Pasar Harjodaksino, Listianto, mengatakan pengelola pasar sudah sering meminta pedagang oprokan yang menempati Jl. Dewi Sartika untuk berjualan di dalam pasar. Dengan alasan takut tidak laku kalau berjualan di dalam pasar, mereka tetap nekat berjualan di Jl. Dewi Sartika. Menurut dia, para pedagang yang merupakan warga sekitar Serengan tersebut lebih memilih berjualan di Jl. Dewi Sartika karena bisa lebih mudah menjangkau pembeli.

“Kami akan terus melakukan pendekatan kepada mereka untuk mau pindah dan tidak lagi mengganggu aktivitas di Jl. Dewi Sartika. Apabila tidak mengindahkan saran pindah itu, para pedagang oprokan akan benar-benar dipaksa untuk pindah atau digusur. Kami senantiasa akan mengawasi pergerakan mereka,” tegas Listianto.

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…