Petugas Balai Pengawasan Obat dan Makanan ( BPOM) DIY menguji sejumlah makanan untuk diteliti kandungan zat berbahaya saat digelar razia jajanan. (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Minggu, 1 Mei 2016 04:20 WIB JIBI/Harian Jogja/Newswire Bantul Share :

MAKANAN BERBAHAYA
Pengujian Rutin Dilakukan untuk Jajanan Pasar

Makanan berbahaya dicegah peredarannya.

Solopos.com, BANTUL  — Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, melakukan uji laboratorium terhadap beberapa sampel jajanan pasar yang dijual di daerah ini untuk mengetahui kandungan bahan pada makanan itu.

“Kami ambil beberapa sampel jajanan, kebanyakan olahan makanan di beberapa pasar tradisional. Diambil sampelnya untuk diuji laboratorium karena ditengarai mengandung bahan berbahaya,” kata Kepala Disperindagkop Bantul Sulistyanto Selasa (31/5/2016) seperti dikutip dari Antara.

Menurut dia, pengambilan sampel jajanan pasar itu dilakukan saat tim gabungan dari instansinya bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Yogyakarta menggelar pengawasan dan pemantauan terhadap produk pangan menjelang Ramadan yang dimulai sejak 26 Mei 2016.

Meskipun telah mengambil beberapa sampel makanan olahan itu, pihaknya belum bisa menyampaikan jenis jajanan pasar yang ditengarai mengandung bahan berbahaya itu termasuk kandungan bahannya, karena baru dilakukan uji laboratorium.

Namun demikian, kata dia, jika hasil laboratorium nanti menunjukkan produk olahan pangan mengandung bahan berbahaya, pedagang akan dibina supaya tidak menjualnya, setelah itu tim akan melakukan pemantauan lagi pada saat bulan Ramadan.

“Kalau ternyata menggunakan bahan berbahaya, pedagang kita bina, bagaimana keamanan pangannya. Awal puasan nanti kami cek lagi. Kami harap masyarakat juga lebih cermat dan teliti dalam membeli pangan,” katanya.

Menurut dia, pengawasan terhadap produk jajanan pasar jelang Ramadhan yang akan dilakukan hingga 2 Juni 2016 lebih ditekankan pada sosialisasi maupun pembinaan kepada para pedagang jajanan, supaya yang dijual memenuhi syarat kesehatan.

“Ini sebagai langkah preventif kami sebelum puasa, dengan harapan jajanan yang dijual memenuhi standar kesehatan, mengingat jajanan ini banyak dicari masyarakat untuk berbuka, sehingga perlu ada sosialisasi,” katanya.

Sulistyanto mengatakan pengawasan pangan sebagai langkah pencegahan peredaran jajaran pasar tidak standar kesehatan menghadapi puasa ini baru yang pertama dilakukan, sebab tahun-tahun sebelumnya pengawasan hanya dilakukan saat puasa.

Sedangkan untuk pengawasan terhadap produk makanan dan minuman di toko modern maupun minimarket berjejaring akan dilakukan mulai pertengahan puasa, untuk mengantisipasi peredaran produk pangan yang sudah kedaluwarsa.

lowongan pekerjaan
NUSANTARA SAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…