Pengantin tebu saat dikirab dalam acara Cembengan di Pabrik Gula Madukismo, Jumat (29/4/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja) Pengantin tebu saat dikirab dalam acara Cembengan di Pabrik Gula Madukismo, Jumat (29/4/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 30 April 2016 13:20 WIB Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

TRADISI BANTUL
Upacara Cembengan Digelar Menjelang Musim Giling Tebu di Pabrik Gula Madukismo

Tradisi Bantul berupa upacara Cembengan kembali digelar

Solopos.com, BANTUL- Menjelang musim giling tahun 2016, Pabrik Gula (PG) Madukismo kembali menggelar sebuah upacara tradisi. Kegiatan tersebut dikenal dengan nama Cembengan, uparaca tradisi cembengan ini telah berlangsung puluhan tahun, atau bersamaan dengan berdirinya PG Madukismo pada 1955.

Secara simbolik, Upacara Cembengan merupakan upacara perkawinan tebu yang telah dipilih. Layaknya mempelai pengantin Jawa, sepasang tebu tersebut juga menjalani prosesi kirab manten, ijab, panggeh temanten, serta resepsi atau syukuran

Koordinator upacara Cembengan Alex Chomsa mengatakan, upacara tebu manten ini memang sudah ada sejak dulu, kemudian untuk tanaman tebu yang akan dinikahkan memang sudah dipilih.

“Sesuai dengan hari perkawinan tebu manten, yang diijab qabul pada hari Jumat Kliwon menurut pasaran jawa, pengantin pria kemudian dinamai Kyai Tumpak dan pengantin wanita dinamai Nyai Kasih,” paparnya, di sela-sela acara kirab pengantin, Jumat (29/4/2016).

Pada awalnya, tradisi Cembengan memang tertutup untuk umum dan hanya melibatkan para pekerja pabrik dan petani tebu. Namun dewasa ini, Cembengan menjadi pesta rakyat. Banyak masyarakat sekitar PG Madukismo maupun luar daerah antusias untuk menyaksikan prosesi Cembengan.

“Karena Cembengan sendiri merupakan sebuah ‘cucuk lampah’, tebu pertama yang dikawinkan sebelum digiling, dengan harapan pengantin tebu ini dapat memberikan keturunan berupa tanaman tebu yang melimpah,” katanya.

Untuk awal kegiatan giling tebu yang akan mulai pada 16 Mei 2016, tahun ini PG Madukismo menargetkan akan memproduksi sebanyak 41.250 ton gula pasir.

“Untuk memenuhi target tersebut maka jumlah tebu yang akan digiling dalan tahun ini mencapai 550.000 ton, dan seluruh tanaman padi tersebut berasal dari petani tebu di seluruh wilayah DIY dan Jawa tengah,” kata Alex.

Salah satu petani tebu yang mengikuti prosesi Cembengan, Hadi Sutrisno mengatakan semoga dalam tahun ini para petani di DIY khususnya akan mampu memenuhi target dalam memanen tanaman tebu.

“Semoga penanaman tebu tahun ini dapat berjalan baik dan lancar, kemudian sebagai petani tebu kai juga berharap harga tebu siap panen juga akan stabil tidak mengalami penurunan harga,” ujarnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…