Seorang petugas medis menyiapkan ruangan isolasi di RSUD Pandan Arang Boyolali, Rabu (14/5/2014). Kamar itu disiapkan secara dini salah satunya untuk menangani pasien suspect MERS. (Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos) ilustrasi (JIBI/dok)
Sabtu, 30 April 2016 21:20 WIB Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

PENYAKIT BERBAHAYA
7 Penderita Tuberculosis di Bantul Kebal Obat

Penyakit berbahaya, Tuberculosis Multidrug Resistant (TB- MDR) di Bantul ditemukan tujuh kasus

Solopos.com, BANTUL- Penderita penyakit Tuberculosis Multidrug Resistant (TB- MDR) perlu mendapatkan penanganan yang intensif, pasalnya jenis penyakit ini merupakan penyakit TB namun dengan golongan kebal obat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul hingga saat ini sudah mendata sebanyak kurang lebih tujuh orang menderita penyakit yang berasal dari virus tersebut.

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes Kabupaten Bantul Prambudi Dharmawan mengatakan, untuk saat ini di Bantul memang sudah ada penderita TB-MDR, jumlahnya dibawah 10 orang.

Bukan berarti jika sudah kebal obat pasien tidak bisa sembuh, bisa sembuh namun dengan penanganan yang lebih intensif dan dengan mengkonsumsi obat yang lebih banyak.

“Penderita TB kebal obat atau TB-MDR ini dapat diketahui setelah pengobatan tahap pertama dan kedua sejak mengidap penyakit TB tidak kunjung menunjukkan kondisi membaik, kemudian untuk memastikan pasien akan dicek dahaknya untuk mengetahui secara pasti jika sudah menderita TB-MDR,” ujarnya saat ditemui di Kantor Dinkes Bantul, Jumat (29/4/2016).

Pramudi mengatakan ketika penderita TB-MDR, pasien yang bersangkutan harus menjalani pengobatan secara intensif selama dua tahun, dengan tahap enam bulan pertama untuk pengobatan rutin, kemudian dengan pengobatan tahap lanjutan selama satu setengah tahun.

“Pengobatan untuk penderita TB-MDR dilakukan secara rutin setiap hari, pasien harus meminum obat sebanyak 19 butir obat-obatan dengan ditambah pengobatan dengan disuntik. Penderita TB-MDR juga diwajibkan menggunakan masker dalam kondisi apapun untuk menghindari penularan dan penyebaran virus,” katanya.

Sementara itu menurut Prambudi dalam menangani satu pasien TB-MDR dalam biaya pengobatan akan menghabiskan biaya mahal mencapai 200 juta rupiah. Dan selama ini pengobatan bagi para pasien tersebut masih bergantung pada bantuan dari luar negeri.

“Dengan demikian seharusnya pasien menyadari betul itu, agar yang sudah terkena penyakit tersebut untuk intensif memeriksakan diri dan melakukan pengobatan secara rutin tanpa putus hingga benar-benar sembuh. Bagi pemerintah sebaiknya juga segera dipikirkan bagaimana nanti penanganan pengobatan bagi pasien TB-MDR jika bantuan dari luar sudah terputus,” ujarnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…