Petugas kesehatan memeriksa tensi salah seorang warga di tempat pengungsian di Balai Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, Senin (18/4/2016) sore. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Sabtu, 30 April 2016 09:05 WIB Madiun Share :

LONGSOR PONOROGO
2 Pekan Mengungsi, Warga Talun Merasa Bosan

Longsor Ponorogo di Desa Talun terus menjadi ancaman meski warga telah mengungsi di Balai Desa Talun selama dua pekan.

Solopos.com, PONOROGO — Sebanyak 105 warga Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur yang mengungsi karena takut ancaman bencana alam tanah longsor mulai bosan berada di tempat pengungsian.

Mereka tercatat telah mengungsi di balai desa setempat selama 13 hari terhitung sejak Minggu (17/4/2016) hingga Jumat (29/4/2016).

Pantauan Madiunpos.com di Balai Desa Talun, Jumat siang, sebagian warga lanjut usia (lansia) saling bercengkerama di depan balai desa.

Beberapa lansia juga dirawat di pusat kesehatan desa yang berada di sebelah balai desa. Sedangkan sebagian pengungsi juga membersihkan tempat tidur dan mencuci piring dan gelas.

Seorang pengungsi di balai desa, Saminim, 51, mengatakan telah meninggalkan rumah sekitar dua pekan dan mengungsi di Balai Desa Talun.

Dia mengatakan sudah merasa bosan untuk tinggal di pengungsian, namun dia waswas ketika kembali ke rumahnya yang berada di Dukuh Krajan.

Dia mengakui di tempat pengungsian seluruh kebutuhan tercukupi dengan baik seperti makan dan tempat tidur. Tetapi, selama di tempat pengungsian, dia tidak bisa maksimal dalam mengurus sawahnya.

“Saya setiap pagi pulang ke rumah untuk mengecek kondisi rumah dan mengurus sawah. Saat siang, saya kembali ke pengungsian untuk istirahat. Saya belum berani tinggal di rumah karena masih waswas,” kata dia kepada Madiunpos.com.

Pengungsi lain, Sidir, 75, mengatakan sudah kangen dengan rumahnya. Dia berharap bencana segera berakhir dan dirinya bisa kembali tinggal di rumahnya. Sidir mengaku selama di pengungsian tubuhnya sakit dan sering terserang flu.

“Saya ingin segera pulang ke rumah. Tetapi nunggu kondisi aman. Saya takut kalau terjadi longsor,” kata nenek-nenek yang memiliki delapan cucu ini.

Kepala Desa Talun, Waroto, menyampaikan pengungsi yang ada di balai desa masih 39 keluarga dengan 105 jiwa. Warga masih bertahan di tempat pengungsian karena mereka waswas atas ancaman bencana yang ada di lingkungannya.

Waroto mengatakan pihaknya masih menunggu hasil penelitian Badan Geologi Bandung yang sepakan lalu melakukan penelitian di wilayah Talun.

Ketika dari laporan itu menyebutkan kondisi Dukuh Krajan aman, warga akan diperbolehkan untuk menempati rumah mereka. Namun, ketika laporan menyebutkan Dukuh Krajan rawan bencana, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemkab mengenai solusi yang akan dilakukan.

“Hingga kini belum ada hasil laporannya. Sehingga, kami pun belum ada solusi bagi warga dan mereka pun dilarang untuk kembali ke rumahnya. Nanti kalau rekomendasi telah turun, baru kami bisa menentukan solusi. Yang pasti kalau memang solusinya relokasi warga, kami akan siapkan tempatnya,” jelas dia kepada Madiunpos.com.

Dia mengatakan hingga kini logistik untuk pengungsi berupa beras, mi instan, dan lainnya masih tercukupi. Dia mengatakan pemerintah memfasilitasi makan bagi pengungsi tiga kali sehari.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…