Mashuri, 31, guru wiyata bakti di SDN 1 Talun, Ngebel, Ponorogo, yang bekerja sampingan sebagai penjual cilok. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Sabtu, 30 April 2016 19:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KISAH INSPIRATIF
Gaji Rp350.000/bulan, GTT Ini Mampu Kuliahkan Istri dengan Berjualan Cilok

Kisah inspiratif ini dari guru wiyata bakti di SDN 1 Talun yang berjualan cilok di sela-sela aktivitasnya.

Solopos.com, PONOROGO — Mashuri, 31, seorang guru wiyata bakti (WB) di SDN 1 Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur, tak pernah malu membawa sepeda motor butut dengan gerobak yang digunakan untuk berjualan jajanan cilok di sekolahnya.

Mashuri berjualan cilok saat di luar jam kegiatan belajar mengajar dan seusai pulang dari sekolah. Berjualan cilok menjadi satu jalan bagi Mashuri untuk menyelamatkan perekonomian keluarga.

Perjuangan guru Mashuri ini merupakan sebuah ironi di dunia pendidikan di Indonesia. Banyak guru yang nyambi bekerja atau berjualan untuk menambah penghasilan karena gaji sebagai guru tidak mencukupi kebutuhan hidup.

Mashuri menceritakan telah menjadi guru tidak tetap (GTT) di SDN 1 Talun sejak sembilan tahun silam atau tahun 2007 lalu.

Lulusan jurusan pendidikan olahraga Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang ini langsung berkarier di dunia pendidikan di SDN 1 Talun sebagai guru kelas. Setelah tiga tahun menjadi guru kelas, Mashuri ditetapkan sebagai guru olahraga.

Dia mengaku saat ini gaji sebagai guru WB di SDN 1 Talun senilai Rp350.000/bulan, gaji ini sudah agak tinggi jika dibandingkan gajinya pada enam tahun lalu yang hanya Rp250.000/bulan.

Dengan gaji yang tidak seberapa itu, Mashuri yang telah memiliki istri dan satu anak ini harus bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Merasa gaji tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, kata Huri, dia pun memutar otak supaya tetap bisa mengajar dan memiliki penghasilan tambahan. Akhirnya, tercetuslah berjualan cilok untuk menambah penghasilan.

“Cilok itu jajanan yang disukai anak-anak dan harganya pun murah, jadi saya bisa menjualnya di sekolah dan keliling kampung. Kalau berjualan jajanan yang harganya mahal tentu akan kesulitan memasarkannya,” ujar dia saat berbincang dengan Madiunpos.com di rumahnya di Desa Talun, Jumat (29/4/2016).

Setiap kali membuat adonan cilok, Huri membutuhkan 3,5 kg tepung dan 3,5 kg daging sapi. Sekali membikin adonan itu, biasanya habis selama dua hari dan mendapatkan penghasilan kotor senilai Rp450.000.

Dari hasil berjualan cilok, Huri bisa melanjutkan kehidupan keluarganya tanpa menghalangi mengabdi di dunia pendidikan seperti cita-citanya semasa kecil. Angsuran kendaraan bermotor senilai Rp615.000/bulan, tidak pernah terlambat dibayarkan.

Dari berjualan cilok, Huri juga mampu menguliahkan istrinya, Sunarsih, 28, hingga mendapatkan gelar sarjana di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Saat ini, istrinya mengajar di sekolah taman kanak-kanak (TK) yayasan swasta di Desa Talun dengan gaji tidak jauh dari dirinya yaitu senilai Rp250.000/bulan.

Meski gaji sebagai pendidik kecil, bagi Huri, uang dari mengajar adalah rezeki yang memberi berkah. Karena di dunia pendidikan, dirinya bisa menularkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak di desa yang berada di kawasan pegunungan itu.

Huri menuturkan setiap hari berjualan cilok  di SDN 1 Talun sembari mengajar. Namun, ada peraturan yang diterapkan saat berjualan yaitu pembeli hanya dilayani saat di luar jam kegiatan belajar mengajar.

Setelah pulang dari sekolah sekitar pukul 12.00 WIB, Huri menyempatkan diri untuk istirahat sejanak dan kemudian sekitar pukul 15.00 WIB, dia kembali berjualan cilok keliling Desa Talun.

“Dulu awalnya, saya sering berjualan cilok di tempat wisata Telaga Ngebel, tetapi karena di sana banyak saingannya, sehingga saya memutuskan untuk berjualan keliling kampung saja,” ujar dia sambil menyeruput segelas kopi hitam panas.

Lebih lanjut, Huri menuturkan saat libur sekolah, biasanya dirinya menggunakan kesempatan itu untuk bekerja di luar desa. Dia menceritakan pada liburan semester tahun lalu, dia memanfaatkan waktu libur panjang untuk bekerja sebagai buruh bangunan.

Sebenarnya, keinginan untuk bekerja di luar daerah itu ada. Namun, ketika melihat hati nurani dan kondisi pendidikan di desanya, sering kali hal itu menjadi pemicu untuk mengurungkan niat bekerja di luar daerah.

Seperti harapan GTT lainnya, Huri juga berharap bisa diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Namun, dia akan tetap berkomitmen mendidik anak-anak di desanya meski belum diangkat sebagai PNS.

Pada Hari Pendidikan Nasional yang setiap tanggal 2 Mei 2016 diperingati, Huri berharap supaya pemerintah lebih memperhatikan fasilitas pendidikan yang ada di desanya. Hal ini karena siswa SDN 1 Talun kekurangan fasilitas buku pelajaran dan alat pendidikan lainnya.

“Pada Hardiknas 2016 ini, saya mungkin tidak terlalu berharap pada kenaikan tunjangan guru WB. Tetapi, saya ingin fasilitas pendidikan yang ada di SDN 1 Talun bisa ditingkatkan,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…