Ratusan anggota sanggar tari di Kulonprogo unjuk kreativitas memeriahkan memeriahkan Jogja JejogEdan untuk memperingati Hari Tari Sedunia, Jumat (29/4/2016) sore. (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja) Ratusan anggota sanggar tari di Kulonprogo unjuk kreativitas memeriahkan memeriahkan Jogja JejogEdan untuk memperingati Hari Tari Sedunia, Jumat (29/4/2016) sore. (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 30 April 2016 14:20 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

HARI TARI SEDUNIA
500 Penari dari Sanggar Tari Kulonprogo Meriahkan Jogja Jejogedan

Hari tari sedunia diperingati dengan kirab budaya

Solopos.com, KULONPROGO- Sebanyak 500 orang dari 17 sanggar tari di Kulonprogo memeriahkan Jogja JejogEdan untuk memperingati Hari Tari Sedunia, Jumat (29/4/2016) sore.

Dwi Prasetyo bersandar pada salah satu pohon di area taman depan Rumah Dinas Bupati Kulonprogo. Pria gembul itu dengan percaya diri bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor berwarna hitam. Sebuah ikat kepala bermotif batik pun dipakai sebagai aksesoris kepalanya.

Namun, bagian paling mencolok adalah riasan wajahnya yang didominasi warna merah. Sentuhan warna putih dan hitam kemudian ditambahkan sehingga membentuk pola wajah babi.

Penampilan Dwi tentu saja menarik perhatian banyak orang, termasuk sekumpulan anak perempuan berkostum penari angguk. Niat usil Dwi pun muncul. Dia menegakkan tubuhnya dan mengambil ancang-ancang seakan bakal mendekat. “Aaakkkk,” teriak anak-anak itu sambil berhamburan kabur kemudian.

Dwi tertawa. Dia kembali bersandar pada pohon sembari menunggu acara Jogja JejogEdan dimulai. “Ini jadi celeng. Pokoknya bikin penonton tertawa,” kata dia sambil tersenyum lebar.

Dwi adalah salah satu anggota Sanggar Singon yang terletak di Pengasih, Kulonprogo. Dia mengaku senang bermain ketoprak dan ikut kesenian jatilan. Dia berharap Jogja Jejogedan yang baru diadakan pertama kali di Kulonprogo bisa kembali dilaksanakan setiap tahun. Menurutnya, kegiatan itu menjadi ajang silaturahmi dan eksplorasi kreativitas para seniman lokal.

Beberapa menit kemudian, Dwi merapatkan diri bersama teman satu sanggarnya karena acara segera dimulai. Dia dan ratusan peserta pawai lainnya lalu dilepas Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo dari depan Rumah Dinas Bupati Kulonprogo atau Alun-alun Wates sisi utara. Rute pawai ditentukan melewati Teteg Kulon, pertigaan Driyan, Pasar Wates, Teteg Wetan, dan berakhir di kompleks perkantoran Pemkab Kulonprogo.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo, Untung Waluyo mengatakan, peringatan Hari Tari Sedunia dikemas sedemikian rupa dalam gerak tari massal dan pawai keliling kota. Dia berharap Jogja JejogEdan mampu menjadi ajang aktualisasi diri para seniman dan pegiat sanggar seni, khususnya di Kulonprogo.

Seluruh peserta memang diberikan kebebasan untuk berekspresi, termasuk dalam penentuan kostum dan tata rias. Itulah kenapa ada yang berusaha menjelma jadi aneka hewan, hingga orang gila. Namun, semuanya tetap bernilai seni. “Itulah salah satu makna Jogja JejogEdan. Seniman kadang harus ngedan untuk menghasilkan kreasi yang baik, tanpa meninggalkan adat ketimuran,” ujar Untung.

Acara sore itu berlangsung meriah. Ribuan warga memadati kawasan Alun-alun Wates dan sepanjang rute pawai. Mereka dibuat tertawa dengan aksi dan kostum para peserta pawai. Salah satu diantaranya jelas karena kekocakan Dwi.

Meski berat badannya mencapai setidaknya 110 kg, Dwi sengaja mencoret punggungnya dengan tulisan “celeng imoet” yang menjadi pemicu tawa setiap kali terbaca.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…