Head of Corporate Secretary and Communications Bank BNI Syariah, Endang Rosawati ketika menjelaskan kondisi perbankan syariah di Indonesia dan kondisi Bank BNI Syariah di Hotel Jambuluwuk, Jogja, Kamis (28/4/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja) Head of Corporate Secretary and Communications Bank BNI Syariah, Endang Rosawati ketika menjelaskan kondisi perbankan syariah di Indonesia dan kondisi Bank BNI Syariah di Hotel Jambuluwuk, Jogja, Kamis (28/4/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 29 April 2016 23:20 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PERBANKAN SYARIAH
Market Share Ditarget Meningkat, Ini Strategi BNI

Perbankan syariah BNI menargetkan market share nasional naik.

Solopos.com, JOGJA–PT Bank BNI Syariah berharap marker share industri perbankan syariah secara nasional semakin meningkat. Saat ini, market share perbankan syariah tidak lebih dari 5%. Dukungan pemerintah diharapkan bisa lebih besar lagi.

(Baca Juga : PERBANKAN : Laba BNI Syariah Tumbuh Lebih dari 64%)

Head of Corporate Secretary and Communications Bank BNI Syariah, Endang Rosawati mengatakan, Pemerintah harus lebih memahami ada perbedaan antara bank konvensional dan syariah. Oleh karena itu, regulasi yang ada seharusnya juga lebih mendukung perkembangan industri keuangan syariah.

Ia menjelaskan, pemerintah menetapkan pungutan pajak 20% untuk keuntungan yang diperoleh dan diterapkan sama besar untuk bank syariah maupun konvensional. Hal itu dinilai belum adil untuk nasabah bank syariah karena pemberian keuntungan tidak sama dengan bank konvensional yang bersifat fixed return.

“Pada investor reksadana yang juga menerpakan sistem imbal balik, pungutan pajaknya hanya lima persen. Sementara, pada deposan syariah pungutan pajaknya justru 20 persen,” ujar dia dal workshop dan pembentukan forum Jurnalis Eknonomi Syariah (JES) wilayah Jogja, Solo, dan Semarang (Joglosemar) di Hotel Jambuluwuk, Jogja, Kamis (28/4/2016).

Namun, ia menilai Pemerintah mulai mendukung pertumbuhan perbankan syariah dengan adanya regulasi dan kebijakan yang mendukung seperti rasio Loan To Value (LTV) yakni pemberlakuan uang muka lebih rendah dibanding bank konvensional. Pemerintah jufa membentuk Komite Nasional Syariah Indonesia (KNSI) yang langsung berada di bawah Presiden.

“Ada pula penunjukkan bank syariah untuk pengelolaan dana haji. Tapi, itu masih parsial dan belum sistemik, terutama dalam mendukung pertumbuha¬† market share, padahal potensi di Indonesia sangat besar,” papar dia.

Ia berharap, Indonesia akan bisa menjadi pusat ekonomi syariah. Dibanding negara tetangga seperti Malaysia, market share industri perbankan syariah di Indonesia masih kalah jauh. Di Malaysia, market share industri perbankan syariah sudah menyentuh angka 22%. Indonesia memiliki banyak potensi yang bisa digarap secara syariah misalnya makanan dan farmasi.

“Jangan sampai diambil negara lain dalam pengelolaannya,” ungkap dia.

Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono mengatakan, perbankan syariah saat ini mengalami tantangan yang besar.

“Kami masih memiliki market share lima persen. Kami sangat butuh dukungan semua pihak termasuk Pemerintah,” papar dia.

Ia mengungkapkan, perbankan syaraih juga menghadapi beberapa isu besar yakni kapasitas modal, inovasi produk, sumber daya manusia, dan juga literasi masyarakat akan perbankan syariah.

lowongan kerja
SOCIAL KITCHEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….