Petugas kebersihan memilah sampah plastik di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Jurug, Jebres, Solo, Rabu (6/4/2016). Pemkot Solo akan menutup TPS Jurug pada tahun ini untuk pelaksanaan program penataan lingkungan. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Jumat, 29 April 2016 05:50 WIB Mayang Lestari/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Pengelolaan Sampah di Gunungkidul Masih Belum Maksimal

Pemerintah kabupaten Gunungkidul berusaha untuk mencari solusi salah satunya dengan menambah ketersediaan bank sampah.

 

 

Solopos.com, WONOSARI-Persoalan sampah di Gunungkidul masih menjadi hal yang belum dapat diselesaikan secara tuntas. Pasalnya, kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah pun masih rendah. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten Gunungkidul berusaha untuk mencari solusi salah satunya dengan menambah ketersediaan bank sampah.

Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) Gunungkidul, Irawan Jatmiko mengungkapkan saat ini masyarakat masih banyak yang menerapkan sistem bakar sampah. Padahal menurutnya, asap yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah akan berdampak tak ramah pada lingkungan.

“Masyarakat, terutama di pedesaan masih melakukan sistem pembakaran, padahal tidak baik bagi lingkungan,” kata dia Kamis (28/4/2016).

Saat ini di Gunungkidul sendiri sampah yang masih banyak dihasilkan masyarakat ialah sampah dedaunan yang masih dapat diantisipasi dengan pembuatan kompos. Namun seiring berkembangnya pariwisata di Gunungkidul, terutama untuk wisata pantai wisatawan banyak yang masih meniggalkan sampah plastik. Oleh karena itu, beberapa waktu kedepan ia akan berencana untuk membangun tempat pembuangan akhir di beberapa titik di Gunungungkidul, terutama di wilayah selatan dekat pantai. Selain itu ia juga berupaya untuk menambah jumlah bank sampah di Gunungkidul, kelompok pengelola sampah pun kini telah banyak yang terbentuk.

“Kelompok pengelola samapah sudah ada sekitar 13 kelompok, sedangkan untuk bank sampah ada lima, kami targetkan menjadi 15,” kata dia.

Sejauh ini sampah masih banyak dan sulit dikendalikan di temapt-tempat wisata. Ia berencana dalam setiap kecamatan dapat memiliki setidaknya satu bank sampah dan kelompok pengelola sampah. Sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan secara maksimal.(Mayang Nova Lestari)

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…