Sepuluh pasang grand finalis Mas dan Mbak Jateng menjawap pertanyaan yang diajukan dewan juri dalam Malam Grand Final Mas dan Mbak Jateng di Wisma Boga, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, Sabtu (22/11/2014). Pemilihan duta wisata tersebut diikuti 35 pasang duta wisata dari seluruh kota dan kabupaten di Jawa Tengah. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos) Sepuluh pasang grand finalis Mas dan Mbak Jateng menjawap pertanyaan yang diajukan dewan juri dalam Malam Grand Final Mas dan Mbak Jateng di Wisma Boga, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, Sabtu (22/11/2014). Pemilihan duta wisata tersebut diikuti 35 pasang duta wisata dari seluruh kota dan kabupaten di Jawa Tengah. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos/dok )
Jumat, 29 April 2016 09:15 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

PEMILIHAN DUTA WISATA
Pendaftaran Mas dan Mbak Sukoharjo Sepi Peminat

Pemilihan duta wisata Mas dan Mbak Sukoharjo sampai saat ini belum banyak yang mendaftar jadi peserta.

Solopos.com, SUKOHARJO – Pendaftaran peserta pemilihan Mas dan Mbak Sukoharjo 2016 masih sepi peminat. Pendaftaran peserta Mas dan Mbak Sukoharjo bakal ditutup pada 7 Mei mendatang.

Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (DPOPK) Sukoharjo, Sri Joko Indarto, mengatakan hingga Kamis (28/4/2016), jumlah peserta yang telah mendaftar kurang dari 29 peserta. Biasanya, para peserta baru mendaftar menjelang masa pendaftaran ditutup.

“Saya yakin jumlah peserta yang mendaftar menjelang penutupan pendaftaran bakal membeludak.

Persyaratan pendaftaran cukup ketat misalnya tinggi badan bagi peserta pria minimal 170 sentimeter dan wanita minimal 165 sentimeter,” kata dia, saat ditemui solopos.com di kantornya, Kamis.

Selama ini, anggota Paguyuban Duta Wisata Sukoharjo telah melakukan roadshow ke perguruan tinggi (PT) seperti Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Selain itu, anggota Paguyuban Duta Wisata Sukoharjo juga menyambangi beberapa Sekolah Menegah Atas (SMA) di Sukoharjo.

Mereka membagi-bagikan brosur yang berisi tahapan penyelenggaraan Mas dan Mbak Sukoharjo 2016. “Roadshow dilakukan agar para mahasiswa dan pelajar mengetahui berbagai syarat utama pendaftaran Mas dan Mbak Sukoharjo 2016. Saya harap peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar cukup banyak,” ujar dia.

Pria yang akrab disapa Indarto ini menjelaskan para peserta yang telah lolos persyaratan adminitrasi bakal mengikuti tahapan seleksi. Tak hanya fisik, para dewan juri bakal menilai potensi, bakat dan wawasan di bidang pariwisata setiap peserta. Selanjutnya, hanya beberapa pasangan yang berhak melanjutkan ke babak grand final.

“Para peserta bakal mengikuti tes tertulis, wawancara, dan bakat minat pada 12 Mei. Sementara pelaksanaan grand final Mas dan Mbak Sukoharjo dilaksanakan pada 21 Mei,” jelas dia.

Lebih jauh, Indarto menambahkan potensi pariwisata di Sukoharjo cukup besar dan bisa dikembangkan ke depan. Pengembangan sektor pariwisata membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang bisa menciptakan branding Sukoharjo sebagai daerah wisata.

Potensi pariwisata itu seiring dengan tema yang diusung Mas dan Mbak Sukoharjo 2016 yang berkaitan erat dengan pariwisata sebagai industri pada masa mendatang.

Di sisi lain, seorang warga Desa Gentan, Kecamatan Baki, Mulyanto, mengatakan organisasi Paguyuban Mas dan Mbak Sukoharjo harus dilibatkan dalam berbagai event atau kegiatan di Kabupaten Jamu. Anggota paguyuban itu juga harus aktif mempromosikan potensi pariwisata di Sukoharjo sehingga mampu menarik wisatawa lokal maupun mancanegara.

“Semestinya duta wisata tak hanya berperan sebagai among tamu saat event atau kegiatan. Mereka harus lebih giat mempromosikan potensi pariwisata dengan berbagai cara,” kata dia.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…