Ilustrasi antikorupsi (JIBI/Solopos/Antara/Dok.) Ilustrasi antikorupsi (JIBI/Solopos/Antara/Dok.)
Jumat, 29 April 2016 06:55 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KORUPSI RASKIN BANTUL
Pengacara Kuden Nilai Polisi Sengaja Mengambangkan Kasus

Korupsi raskin Bantul belum selesai juga meski sudah diproses selama empat tahun.

Solopos.com, BANTUL- Korupsi beras miskin (raskin) di Dusun Kuden, Sitimulyo, Piyungan, Bantul diduga direkayasa oleh Kepolisian Bantul. Empat tahun kasus ini ditangani polisi, tetapi sampai sekarang belum tuntas.

Adapun Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul berkali-kali menolak berkas penyidikan yang dilimpahkan polisi lantaran berkas tersebut dinilai tak lengkap. Pengacara warga Dusun Kuden (selaku pelapor) Erlan Nopri  menilai ada kesengajaan dari polisi mengambangkan perkara ini hingga energi warga untuk mengawal habis.

Kasus korupsi raskin tersebut lanjut Erlang sangat tidak wajar. Sudah empat tahun lamanya ditangani polisi tidak kunjung naik ke penuntutan. Padahal sudah ada tersangka, sudah ada barang bukti dan keterangan saksi hingga hasil audit BPKP yang menyatakan adanya kerugian negara senilai Rp20 juta.

“Kasus ini memang nilainya kecil, tapi masalahnya bukan itu. Ini hukum yang harus ditegakkan. Jangan mempermainkan rakyat kecil. Jangan hanya copet yang kasusnya cepat diselidiki polisi bahkan dianiaya, giliran rakyat kecil yang memperjuangkan kasus korupsi dipermainkan, mana empati aparat hukum,” imbuhnya, Kamis (28/4/2016).

Menurut Erlan, apa yang terjadi selama ini merupakan modus lama rekayasa kasus. Seperti menghilangkan berkas perkara yang memberatkan salah satu pihak, atau tidak melampirkan bukti-bukti serta mengambangkan perkara.

“Ini cara-cara lama, ini sudah zaman reformasi sudah enggak saatnya lagi main-main seperti itu,” tegasnya.

Sugeng, warga Dusun Kuden mengatakan polisi hendaknya bersikap profesional tidak mempermainkan warga.
“Saya cuma minta tolong, slogan yang tertulis di depan kantor polisi supaya polisi itu jujur dan berintegritas itu dijalankan,” tutur dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
Administrasi ( Wanita ) & Manager ( Pria), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…