Antrean Gala Premiere AADC 2 di XXI Jogja (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja) Antrean Gala Premiere AADC 2 di XXI Jogja (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja/dok)
Jumat, 29 April 2016 14:25 WIB Kharisma Dhita Retnosari/JIBI/Solopos Layar Share :

FILM BARU
AADC2 Obati Kerinduan 2 Generasi, Ini Kesan Penonton di Solo

Film baru Ada Apa dengan Cinta (AADC2) sudah diputar di bioskop-bioskop.

Solopos.com, SOLO – Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) menjadi tayangan film unik. Keunikan di sini justru terbentuk bukan pada persoalan plot ceritanya, melainkan pada gambaran ikatan batin antara penggemar duo Rangga dan Cinta dengan para fans lintas generasi dengan euphoria yang berbeda.

Tak hanya Rangga-Cinta saja yang harus menunggu lama pertemuan mereka. Masyarakat penikmat film generasi 1990 an dan 2000 pun merasakan romantisme yang sama kala setelah sekian tahun menatap kembali duo Rangga-Cinta di layar bioskop.

Dalam bioskop kali tersebut, tak hanya orang dewasa, remaja pun hanyut dalam suasana menonton. Ada yang hampir menangis, ada juga tawa dan haru dengan kejutan-kejutan tak terduga, selingan adegan lucu natural, dan petikan-petikan puisi romantis yang tersaji dalam film tersebut.

Di hari penayangan perdananya pada Kamis (28/4/2016) tersebut, Ayu Enich, 17, dan Rarastri Karolina, 30, bersama hampir seratus orang di dalam studio Platinum Cineplex Hartono Lifestyle Mall Solo Baru menuangkan emosi dengan cara yang berbeda. Tepat di jam penayangan perdana pada pukul 11.30 WIB, selama kurang lebih 124 menit mereka mengaku puas menyaksikan kembali romantisme duet keduanya.

Di luar dugaan, alur cerita AADC 2 begitu sederhana, namun mengena. Seperti bagaimana Rangga yang hampir putus kuliah merintis usaha café di New York, pertemuan Rangga dengan saudari tirinya, konflik Rangga dengan ibunya, hingga potongan kebersamaan manis 14 tahun Rangga-Cinta.

Di luar kesederhanaan-kesederhanaan itu, kejutan-kejutan kecil tak terduga menjadi pemanis cerita. Sebut saja saat adegan Cinta menghardik Carmen saat mengetahui Carmen lah yang memberitahu Rangga keberadaan Cinta di Jogja.
Adegan tersebut membuat Raras tak kuasa menahan air mata saat Cinta meminta maaf dengan gerakan bahasa tubuh yang menurutnya sangat menyentuh.

Berulangkali Raras menyeka kedua sudut matanya yang mulai basah. “Saya enggak tahu, padahal adegannya biasa saja, tapi tatapan mata Cinta saat meminta maaf, dan ekspresi Carmen, nyambung banget,” ujar dia, Kamis. Kendati demikian, Raras menyayangkan dirinya tidak menangkap energi yang sama dengan AADC 1.

Diakui Raras, AADC2 mengobati kerinduan setelah 14 tahun berharap kelanjutan kisah keduanya. Adegan pertama, saat Cinta mengumumkan pertunangannya dengan seorang pria bernama Trian menjadi satu kejutan pemantik emosi pertama. Romantisme yang sama di dua masa dengan kondisi yang berbeda.

Baik Ayu maupun Raras, keduanya sama-sama penggemar AADC1. Kendati demikian, keduanya datang menonton dengan ekspektasi berdasarkan pengalaman menonton yang berbeda. Pada 14 tahun lalu, Raras berujar secara nyata merasakan euphoria AADC yang saat itu mampu menggiring dia dan sesama remaja seangkatannya mendadak puitis dan suka sastra.

Sementara bagi Ayu yang mengaku berkali-kali menonton AADC 1 dari layar televisi, merasa momen menonton AADC2 di layar bioskop menjadi spesial.

Dengan penuh semangat dia berharap dapat mencicipi momen euphoria yang sama tapi berbeda dengan menjadi saksi AADC2 di layar bioskop. Sementara bagi Raras, momen menonton AADC2 kali ini menjembatani kerinduan memoar masa lalu.

“Waktu serial pertama film ini booming saya masih kecil banget. Bisanya nonton juga waktu diputar di TV,” ujar dia, Kamis. Sambil tersipu Ayu juga berkisah bagaimana dirinya sempat berburu VCD bajakan demi menonton dua idola tersebut.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…