Salah seorang pengunjung saat melihat kerusakan yang ada di Embung Gunung Panggung, Tambakromo, Kecamatan Ponjong. Selasa (15/12/2015) (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Salah seorang pengunjung saat melihat kerusakan yang ada di Embung Gunung Panggung, Tambakromo, Kecamatan Ponjong. Selasa (15/12/2015) (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 29 April 2016 08:20 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

EMBUNG GUNUNG PANGGUNG
Pembangunan Masih Kurang Rp700 Juta

Embung Gunung Panggung masih dalam proses pembangunan.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Gunungkidul menilai proses pembangunan Embung Gunung Panggung, di Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong belum selesai seluruhnya. Sebagai dampaknya keberadaan embung belum berfungsi secara maksimal.

Kepala DPU Gunungkidul Eddy Praptono menjelaskan, pembangunan Gunung Panggung dilakukan bersamaan dengan pembangunan Embung Batara Sriten, di Desa Pilangrejo, Nglipar. Dua embung ini dibangun dengan menggunakan dana hibah dari Pemerintah DIY sebesar Rp3 miliar.

Dalam perencanaan awal, pembangunan Embung Gunung Panggung ditaksir menelan biaya Rp1,7 miliar. Namun dalam proses pelaksanaannya, hanya mendapat jatah Rp1 miliar, karena dana Rp2 miliar digunakan untuk membangun Embung Sriten.

“Memang masih kurang sekitar Rp700 juta. Jadi untuk sekarang pembangunannya belum selesai secara keseluruhan,” katanya.

Sayangnya upaya penyelesaian embung terkendala aturan, sebab saat ini aset tersebut merupakan milik Pemerintah Desa Tambakromo. Eddy mengakui, pemkab belum bisa memberikan bantuan karena terbentur aturan. Hanya saja, ia berjanji akan berusaha agar fasilitas itu tidak menjadi bangunan mangkrak.

“Saat ini kewenangan memang ada di pemerintah desa setempat. Namun kami akan berusaha membantu, salah satunya dengan mewacanakan penambahan alokasi dana desa untuk desa itu. Tapi rencana ini harus dibicarakan terlebih dahulu dengan DPPKAD,” katanya.

Terpisah, Kepala Desa Tambakromo Sudigdo Wiyoko belum bisa dikonfirmasi mengenai keberlanjutan Embung Gunung Panggung. Saat dihubungi melalui nomor ponselnya dalam kondisi tidak aktif.

Sebelumnya diberitakan, bahwa dalam setahun terakhir, Embung Gunung Panggung sudah ditambal sebanyak tiga kali. Namun upaya tersebut belum maksimal karena disinyalir masih ada kebocoran sehingga embung tidak bisa penuh terisi air.

“Airnya tidak ada mas. saya tidak tahu kenapa banyak yang bocor, tapi menurut petugas yang memerbaiki, kebocoran terjadi karena lokasi dasaran yang kurang rata,” kata Narni, pemilik warung yang berada di kaki bukit Gunung Panggung kepada Harianjogja.com, Rabu (27/4/2016).

Dia pun berharap agar kerusakan itu dapat diperbaiki. Sebab dari sisi potensi keberadaan embung memiliki manfaat yang luas. Selain untuk irigasi bagi petani saat musim kemarau, lokasi itu juga bisa dijadikan sebagai tempat wisata.

“Sayang kalau hanya dibiarkan saja, karena bisa menjadi bangungan mangkrak,” katanya.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….