Peserta lomba berkebaya khas Ponorogo tampil di gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Jumat, 29 April 2016 07:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

BATIK PONOROGO
Harga Mahal, Bupati Ingin Batik Ponorogo Diproduksi Massal

Batik Ponorogo, Pemkab Ponorogo akan membangkitkan industri batik dengan motif khas Kota Reog.

Solopos.com, PONOROGO – Pemerintah Kabupaten Ponorogo akan menginventarisasi dan mengumpulkan pembatik yang ada di Ponorogo. Hal itu menjadi salah satu langkah awal pengembangan kain batik motif khas Kota Reog.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, mengatakan saat ini kain batik khas Ponorogo jarang ditemui di pasaran karena memang jumlah produksi kain batik di Ponorogo sangat minim. Saat ini, hanya ada belasan pembatik dan empat produsen batik yang ada di Ponorogo.

Dia menyampaikan setelah seluruh pembatik terdata, nantinya Pemkab memberikan sejumlah pelatihan membatik dan mengirimkan mereka ke sejumlah daerah yang memiliki produsen batik yang cukup maju seperti Solo dan Pekalongan, Jawa Tengah.

“Saat ini belum jelas, berapa pembatik yang ada di Kota Reog. Kalau produsen ada empat, tetapi produksi mereka kan masih sedikit, jadi harga batik khas Ponorogo sangat mahal,” kata dia kepada wartawan seusai menghadiri acara Lomba Berbusana Kebaya dalam Memperingati Hari Kartini 2016 di Gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016).

Ipong menambahkan produksi batik khas Ponorogo harus dilakukan dalam jumlah besar. Hal ini supaya produksi kain batik khas Ponorogo bisa dinikmati berbagai kalangan dengan harga terjangkau.

Dia mencontohkan baju batik di Solo dijual dengan harga Rp50.000, karena diproduksi secara massal. Namun, kalau produksi kain batik masih diproduksi secara rumahan, tentu harga kain batik akan mahal.

Menurut dia, sebenarnya Ponorogo pernah menjadi sentra industri kain batik pada tahun 1950-an di wilayah Jawa Timur. Saat itu, ada sekitar 10 motif kain batik yang merupakan hasil kreasi pembatik. Namun, karena berbagai faktor industri batik di Ponorogo semakin lama semakin tersisihkan.

“Ada 10 motif batik yang dimiliki Ponorogo, salah satunya motif batik parang kusumo. Untuk itu, saat ini diperlukan inovasi dari pembatik supaya memiliki motif yang lebih kreatif. Kami juga mendorong pengrajin batik untuk mengembangkan kain batik dengan motif merak yang menjadi salah satu hewan ikon Ponorogo,” terang dia.

Lebih lanjut, Ipong menegaskan kain batik khas Ponorofo itu nantinya akan menjadi salah satu seragam resmi untuk pegawai pemerintahan yang ada di Ponorogo.

Selain itu, nantinya kain batik khas itu juga menjadi salah satu seragam yang dikenakan siswa di Kota Reog.

“Untuk saat ini kan belum ada seragam yang menggunakan kain batik khas Ponorogo. Tetapi, nantinya akan digunakan sebagai seragam bagi pegawai pemerintah dan pelajar,” imbuh dia.

Ketua Tim Penggerak PKK Ponorogo, Sri Wahyuni, mengatakan dalam mendukung program pengembangan batik khas Ponorogo, PKK akan membuat berbagai pelatihan untuk mendukung kreativitas pengrajin batik.

Dia mengakui saat ini belum ada seragam berbahan kain batik Ponorogo yang digunakan sebagai seragam di TP PKK Ponorogo.

“Kalau memang sudah diproduksi massal dan bisa dipasarkan, tentu kami akan melakukan kegiatan promosi supaya batik ini lebih dikenal masyarakat luas,” kata Sri Wahyuni.

LOWONGAN PEKERJAAN
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…