Co Founder Taxies Glen Chandra ketika menunjukkan aplikasi Taxies di Studio Oxx Indonesia, Jl Palagan Tentara Pelajar Km 6, Sedan 114, Sleman, Jumat (29/4/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja) Co Founder Taxies Glen Chandra ketika menunjukkan aplikasi Taxies di Studio Oxx Indonesia, Jl Palagan Tentara Pelajar Km 6, Sedan 114, Sleman, Jumat (29/4/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 29 April 2016 15:55 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

APLIKASI SMARTPHONE
Pesan Taksi di Kini Bisa Lewat Aplikasi Taxies

Aplikasi Smartphone Taxies menawarkan layanan pemesanan taksi di Jogja

Solopos.com, SLEMAN—Memesan taksi resmi atau taksi pelat kuning di DIY bisa dilakukan dalam sapuan jari melalui aplikasi Taxies. Aplikasi ini dikembangkan oleh CV Oxx Indonesia yang berawal dari pengalaman pribadi.

Co Founder Taxies Glen Chandra mengungkapkan, Taxies merupakan aplikasi yang dikembangkan Oxx Indonesia yang merupakan perusahaan teknologi digital.

Taxies merupakan product base, yakni produk yang dikembangkan sendiri oleh Oxx  Indonesia. Product base berbeda dengan project base yang dibuat berdasarkan pesanan dari klien. Ia bekerja bersama Achmad Fikri Ardian yang juga merupakan Co Founder Taxies.

Taxies dikembangkan sejak 1,5 tahun yang lalu. Oxx Indonesia merancang Taxies berawal dari pengalaman pribadi. Ada beberapa punggawa Oxx Indonesia yang  gemar naik taksi.

Mereka menemukan beberapa kesulitan ketika akan memesan taksi yakni harus memiliki banyak nomor operator taksi, menghabiskan pulsa, belum tentu taksi tersedia, dan tidak bisa memonitor taksi yang dipesan sudah sampai mana.

“Kami kemudian berpikir apa yang bisa kami lakukan untuk mengakomodasi keluhan konsumen tetapi tidak melanggar regulasi yang ada,” ujar dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di Studio Oxx Indonesia Jl Palagan Tentara Pelajar Km 6, Sedan 114, Sleman, Jumat (29/4/2016).

Dari 20 perusahaan taksi tersebut, ada empat yang bersedia mengadopsi teknologi  ini yakni Pandawa, Indra Kelana, Sadewa, dan Setia Kawan. Glen menilai, hal ini awal yang bagus karena perusahaan taksi mau mengikuti perkembangan zaman.

Aplikasi Taxies resmi diluncurkan di Plaza Ambarrukmo, Sleman, Minggu (24/4/2016). Sejak diluncurkan hingga sekarang, sudah ada 600 pengunduh aplikasi ini. Dua bulan ini merupakan masa percobaan untuk melihat animo masyarakat.

Ia berharap, semakin lama akan semakin banyak masyarakat yang menggunakan aplikasi ini. “Kami terus memperbaiki aplikasi ini sehingga aplikasi ini terus meningkat kualitasnya,” papar dia.

Ada tiga servis yang disediakan dari Taxies yakni untuk user (pemesan taksi), driver (supir taksi), dan administrator perusahaan atau koperasi taksi. Semua data akan terintegrasi sehingga lebih memudahkan. Administrator juga lebih mudah dalam melakukan pencatatan dan pengawasan kepada driver karena setiap transaksi akan tercatat.

Konsumen juga semakin dimudahkan. Pada menu pertama, konsumen akan dihadapkan pada pilihan jenis kendaraan dan jarak misalnya MPV atau sedan. Mereka bisa memilih jenis kendaraan sesuai kebutuhan.

Kemudian, mereka bisa memilih supir yang lokasinya lebih dekat karena sedan terburu-buru, atau bisa juga memilih yang lebih jauh karena masih harus siap-siap.

Setelah itu, mereka akan mengetahui siapa nama supir, nama taksi, dan nomor taksi yang akan menjemput. Konsumen juga bisa memonitor pergerakan taksi yang dipesan. Secara tarif, Taxies tidak berbeda dengan taksi reguler.

Tarif buka pintu, tarif tunggu, dan tarif per kilometer didasarkan pada argo sesuai ketentuan Organda dan telah berlaku selama ini. Hal yang membedakan adalah order taksi sekarang lebih cepat dengan aplikasi ini.

“Kami memang tidak mencantumkan estimasi biaya karena semakin lama, kita semakin tidak bisa memprediksi traffic di DIY. Kami tidak ingin konsumen kecewa kalau ternyata harganya lebih mahal dibandingkan estimasi,” papar dia.

Aplikasi ini juga dilengkapi dengan tombol lost and found jika ada barang yang tertinggal di dalam taksi. Pihak administrator yang nantinya akan menghubungi driver taksi yang ditumpangi dan konsumen yang memiliki barang tersebut.

“Semua kan ada  catatannya, jadi lebih mudah untuk mengetahuinya. Mau lapor sekarang atau besoknya, masih tetap bisa dilacak,” papar dia.

lowogan pekerjaan
Supervisor Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…