Kamis, 28 April 2016 23:20 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

ISC B 2016
PSS dan PSIM, yang Jumawa dan Apa Adanya

ISC B 2016, dua tim DIY melakukan persiapan.

Solopos.com, JOGJA-Beberapa hari jelang kick off, masing-masing klub mulai memantapkan persiapannya. Salah satunya adalah terkait dengan pola formasi baku. Dua tim DIY berikut memiliki kondisi yang saling bertolak belakang.

PSS Sleman misalnya. Klub berjuluk Super Elang Jawa ini memiliki komposisi pemain paling mewah ketimbang klub DIY lainnya. Klub yang terbilang persiapannya paling matang ini memang sempat beberapa kali menjajal pola formasi dalam laga ujicobanya.

Pola 4-4-2 yang selama ini sudah melekat di tubuh skuat Super Elang Jawa, perlahan memang mengalami transformasi menjadi 4-2-3-1. Pola double pivot dan false nine menjadi alternatif bagi pelatih untuk menjalankan taktik dan strateginya.

Kehadiran Seto Nurdiyantoro sebagai juru racik PSS Sleman kali ini jelas memberikan suasana baru. Pola 4-2-3-1 yang diadopsinya dari pelatih lama, ia kembangkan dengan cara membongkar-pasang sejumlah pemain. Bahkan eks pelatih PSIM Jogja ini pun tak segan memindahkan posisi asli seorang pemain.

Sebut saja misalnya Mudah Yulianto. Pemain yang dikenal sebagai seorang winger, oleh Seto kerap dijajal sebagai gelandang serang, bahkan penyerang. Tentu saja, hal ini dilakukan Seto untuk mencari formulasi dari setiap kondisi yang dialami timnya. “Untuk mengantisipasi saja, kalau ada pemain yang cedera. Jadi prinsipnya, semua pemain harus siap dimainkan,” tegas Seto.

Meski begitu, dalam perkembangannya, pola 4-2-3-1 itu pun bisa berkembang menjadi 4-1-4-1, atau bahkan kembali ke 4-4-2. Terlebih kini Seto memang memiliki lebih banyak pilihan gelandang serang yang bisa ia fungsikan sebagai penyerang lubang. Selain Anang Hadi dan Mudah Yulianto, Seto masih bisa menjajal gelandang muda Chandra Lukmana.

Apalagi, saat ini PSS Sleman juga baru saja mendatangkan gelandang muda eks Timnas Indonesia U-23, Dave Mustain. Meski masih banyak memiliki kelemahan dalam hal kecepatan dan penempatan posisi, Dave tetap diharapkan bisa menjadi tumpuan Seto dalam membangun pola formasi serangannya.

Di sektor ujung tombak, kehadiran Rizky Novriansyah jelas memberikan angin segar. Penyerang yang mendapatkan apresiasi saat debutnya bersama PSS Sleman ini jelas menjadi pilihan utama Seto sebagai juru gedor. Terlebih dengan ditunjang postur tubuh 175 cm/75 kg, pemain kelahiran Pangkalpinang ini bisa diandalkan dalam hal perebutan bola-bola atas.

Sementara di sektor belakang, jaminan mutu tentu bisa digaransikan oleh duet pemain gaek Waluyo dan Eko Pujiyanto. Dua stopper yang sama-sama memiliki karakter seorang sweeper ini jelas memudahkan kerja kiper. Kemampuan handling bola atas serta intersept membuat lini belakang PSS Sleman menjadi kian kokoh. “Kami tak mau jumawa. Masih banyak yang perlu dibenahi di tim ini,” ucap Seto merendah.

Kondisi sebaliknya justru dialami ‘saudara tua’ PSS Sleman, PSIM Jogja. Persiapan klub tertua di DIY ini justru terkesan seadanya. Bermodalkan kekuatan pemain jebolan Pra PON DIY, tim pelatih Laskar Mataram memang berupaya keras merangkai tim.

Kondisi diperparah dengan hengkangnya sejumlah pemain senior lantaran gagal bernegosiasi nilai kontrak dengan manajemen. Sebut saja misalnya kiper Agung Andri, dua bek Tulus Septianto dan Oya Winaldo, serta yang terakhir adalah mundurnya Eko Kancil dengan alasan keluarga. Belum lagi, beberapa pemain muda potensial yang sejak awal mengikuti seleksi pun satu per satu turut hengkang. Alhasil, PSIM Jogja kini pun hanya bisa memaksimalkan 22 pemainnya yang tersisa.

Pelatih PSIM Jogja Erwan Hendarwanto pun mengaku dipusingkan untuk menyiapkan kerangka tim. Pola yang tak jauh beda dengan PSS Sleman pun diterapkannya untuk PSIM Jogja. Selain lantaran Erwan dan Seto pernah saling bekerja sama membangun tim PSIM Jogja musim sebelumnya, pola 4-2-3-1 yang diterapkan Erwan itu pun juga merupakan formulasi terbaik, mengingat terbatasnya potensi pemain yang dimilikinya.

Mengandalkan eks bek Persiba U-21 Suni Hizbullah sebagai palang pintu utama, Erwan berharap lini belakangnya mampu bekerja dengan baik menahan gempuran setiap tim lawan. Sementara di lini tengah, Erwan sepertinya masih mengandalkan eks penggawa PSIM Jogja musim sebelumnya. Mundurnya Eko Kancil yang selama ini berperan sebagai jangkar, jelas memberikan peluang lebih bagi armada muda Laskar Mataram macam Dimas Priyambodo, Juni Riyadi, dan Pratama Gilang untuk unjuk gigi.

Sebagai pengatur serangan, Erwan masih menaruh harapan pada sosok Hendika Arga yang ditopang dua winger Johan Arga dan Ranga Muslim. Sementara di lini depan, Erwan sepertinya tak punya banyak pilihan. Krisna Adi seolah tak memiliki kompetitor, pasalnya selain minim jam terbang, penyerang muda Hendra Budi kerap tampil out of form. “Setelah pertandingan uji coba lawan Tunas Jogja kemarin [26/4/2016], saya sudah temukan kerangka untuk tim inti PSIM Jogja,” kata Erwan.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…