Suasana pintu masuk sisi utara di Terminal Tirtonadi, Solo, Senin (29/6/2015). Penggunaan cat warna merah muda pada dinding terminal merupakan salah satu strategi visual untuk memberikan kesan lembut terminal saat menyambut penumpang arus mudik Lebaran 2015. (JIBI/Solopos/Ivanovich Aldino)
Kamis, 28 April 2016 21:15 WIB Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos Solo Share :

INFRASTRUKTUR SOLO
Pedagang Asongan Minta Ruang di Sky Bridge Tirtonadi-Balapan

Infrastruktur Solo, DPRD Solo meminta Pemkot Solo merangkul pedagang asongan.

Solopos.com, SOLO–DPRD Solo mendorong Pemkot merangkul pedagang asongan di Terminal Tirtonadi untuk menghidupkan jembatan layang (sky bridge) penghubung terminal dengan Stasiun Balapan. Legislator menilai nasib pedagang asongan kini semakin miris di tengah gencarnya pembangunan fasilitas terminal.

Wakil Ketua DPRD, Umar Hasyim, meminta Pemkot tidak melupakan nasib pedagang asongan yang sejak lama turut menghidupkan terminal. Menurut Umar, para bakul berpotensi semakin terhimpit jika Pemkot membikin lapak-lapak jualan di sepanjang sky bridge.

“Sekarang saja mereka susah karena tidak boleh masuk area pengunjung terminal. Apalagi jika besok ada kios-kios di sky bridge,” ujarnya saat ditemui wartawan di Gedung DPRD, Kamis (28/4/2016).

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini mendesak ada solusi bagi penghidupan pedagang asongan di terminal. Menurut Umar, para bakul bisa didorong berjualan di jalur sky bridge sehingga fasilitas dapat mendorong ekonomi kerakyatan. “Beberapa kali saya bertemu pedagang asongan, mereka mengatakan belum ada solusi konkrit.”

Pihaknya mendorong Pemkot segera mengajak berunding pedagang asongan terkait pengembangan terminal ke depan. Dengan demikian, ada kesepahaman pandangan untuk meningkatkan kenyamanan terminal tapi tak melupakan nasib pedagang. “Terminal harus mau mendengar uneg-uneg wong cilik seperti bakul. Kami yakin pedagang mau ditata asal diberi solusi yang manusiawi,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Solo, Yosca Herman Soedrajad, mengatakan sejumlah segmen di sky bridge dikonsep untuk konter-konter usaha kecil menengah (UKM). Meski lebar jembatan layang dikepras menjadi 3 meter, dia mengupayakan tetap ada ruang untuk aktivitas berdagang. “Konter-konter usaha seperti kuliner dan makanan ringan perlu untuk menghidupkan jembatan. Keberadaan mereka juga menjadi layanan tambahan bagi pengguna sky bridge,” jelas Herman.

Herman mengatakan konter usaha akan difokuskan di segmen jalur yang dekat tikungan. Sebagai informasi, proyek sky bridge rencananya dimulai Mei mendatang.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…