Taufik Murtono (Istimewa) Taufik Murtono (Istimewa)
Kamis, 28 April 2016 07:10 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Hand Lettering sebagai Kritik Desain Modern

Gagasan Solopos, Rabu (27/4/2016), ditulis Taufik Murtono. Penulis adalah dosen Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Solo.

Solopos.com, SOLO — Suatu pagi di pelosok Karanganyar saya agak terkejut melihat warung soto dan kare langganan saya berubah penampilan. Sebelumnya papan nama warung berupa kayu hitam dengan tulisan tangan dengan cat putih seadanya, mirip coretan anak-anak.

Pagi itu papan nama dari kayu tergeletak di pojok warung. Sebagai gantinya tergantung spanduk digital print bertuliskan nama warung dengan deretan huruf cetak tebal. Begitu memasuki warung, saya juga melihat perubahan serupa.

Spanduk digital print memenuhi ruangan. “Biar terlihat lebih modern, Mas,” kata pemiliknya sambil menyajikan soto dan teh begitu saya tanya mengenai perubahan penampilan warung tersebut. Seketika ingatan saya melayang ke masa ditemukannya mesin cetak modern.

Mesin cetak itu yang menggantikan seni tulisan tangan (hand lettering) dengan huruf cetak dan dimulailah apa yang kemudian mendominasi gaya desain modern, form follow function. Wajah desain era modern selalu tampil bersih, efisien, logis, dan industrial, didukung penciptaan jenis-jenis huruf baru yang rapi dengan mesin komputer.

Bentuk desain akhirnya tunduk pada fungsi komunikasi semata. Tak pelak lagi, desain era modern terkesan kaku dan dingin mengacu pada sistem grid yang ketat. Dominasi gaya desain modern yang dikenal sebagai International Style atau Swiss Style memiliki sejarah panjang.

Gaya Swiss tidak hanya berpengaruh pada desain grafis, tetapi juga arsitektur dan interior. Bangunan era modern tampil rapi dan efisien sesuai fungsi. Puncak pengaruh gaya Swiss dalam desain grafis dapat dilihat pada penggunaan huruf Helvetica yang diciptakan Max Miedinger bersama Eduard Hoffman pada 1957.

Helvetica dapat dikatakan satu jenis huruf tanpa kait yang over used karena dipakai oleh sekian banyak merek ternama, dari fashion, otomotif, minuman, peralatan rumah tangga, komputer, telepon genggam, hingga perusahaan penerbangan.

Desainer merek American Airlines (1966) dalam film dokumenter Helvetica(2007) garapan sutradara Gary Huswit, Massimo Vignelli, menyatakan,”Anda dapat menyatakan I love you maupun I hate you dengan Helvetica”.

Baginya jenis huruf era modern ini bagus untuk apa pun karena faktor keterbacaan yang baik. Gaya desain modern dianggap universal, berlaku di manapun, kapanpun, untuk apapun. Jenis huruf bagi Vignelli tidak perlu punya ekspresi, hanya butuh keterbacaan secara sempurna sehingga sesuai untuk segala keperluan.

Pameran hand lettering dan kaligrafi bertema Pitutur Becik oleh Komunitas Surakarya di Balai Soejatmoko, Solo, 16-22 April 2016, menjadi penting di tengah dominasi gaya desain modern saat ini. Surakarya yang terbentuk pada 2014 adalah komunitas pegiat seni hand lettering dan kaligrafi di Solo.

Penamaan Surakarya diambil dari nama Kota Surakarta (Solo), tempat anggota komunitas ini tinggal,  dan ”karya” merujuk arti cipta seni. Hand lettering dan kaligrafi adalah seni menulis dengan tangan secara manual yang cenderung personal, customized, khusus diciptakan untuk tujuan tertentu. [Baca selanjutnya: Tak Bernyawa]

lowongan pekerjaan
KONSULTAN PERENCANAAN BANGUNAN GUDANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

TELEKOMUNIKASI WONOGIRI
Bandel, 10 Menara BTS Tak Berizin Disegel

Satpol PP Wonogiri menyegel 10 menara telekomunikasi yang belum lengkap perizinannya. Solopos.com, WONOGIRI — Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Wonogiri menyegel 10 menara atau tower base transceiver station (BTS) di beberapa kecamatan dalam sepekan terakhir. Menara BTS itu disegel…