Kepala Bulog Divisi Regional (Divre) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sugit Tedjo Mulyono memantau petugas yang menurunkan raskin untuk di didistribusikan pada Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM) di Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Rabu (24/2/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Kepala Bulog Divisi Regional (Divre) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sugit Tedjo Mulyono memantau petugas yang menurunkan raskin untuk di didistribusikan pada Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM) di Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Rabu (24/2/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 27 April 2016 08:41 WIB Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

TARGET PRODUKSI BERAS
Kulonprogo Targetkan Suplai 7.700 Ton Rasda

Beras tersebut akan dipakai untuk membantu memenuhi kebutuhan beras miskin untuk masyarakat Kulonprogo.

 

Solopos.com, LENDAH-Pemkab Kulonprogo menagetkan mampu memasok beras sebanyak 7.700 ton kepada Bulog tahun ini. Beras tersebut akan dipakai untuk membantu memenuhi kebutuhan beras miskin untuk masyarakat Kulonprogo.

Hal itu diungkapkan Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, usai menghadiri panen raya padi program gerakan peningkatan produksi pangan berbasis korporasi (GP3K) di Bulak Bumirejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, Selasa (26/4) sore. Dia menyatakan Pemkab Kulonprogo akan selalu berusaha untuk menggantikan raskin yang beredar di Kulonprogo dengan beras daerah (rasda) meskipun secara bertahap.

Hasto memaparkan, Kulonprogo sudah menyuplai beras kepada Bulog sebanyak 4.300 ton pada 2015 lalu. Tahun ini dia mengaku cukup optimis mampu meningkatkannya menjadi 7.700 ton. “Posisi saat ini sudah memasok 1.200 ton dan masih ada waktu delapan bulan untuk memenuhi target,” kata Hasto.

Sebanyak tujuh gabungan kelompok tani (gapoktan) tercatat telah menyuplai rasda kepada Bulog secara rutin. Pemkab Kulonprogo terus memberikan pendampingan dan pembinaan intensif agar ketujuh gapoktan mampu memenuhi target 7.700 ton. Produktivitas harus berusaha ditingkatkan, seperti melalui pencegahan dan penanganan hama, penyediaan pupuk, dan sebagainya.

Sementara itu, GP3K yang dilaksanakan PT Pupuk Indonesia di Desa Bumirejo mampu meningkatkan hasil panen hingga 1,5 ton per hektare (ha). Rata-rata hasil panen diketahui bertambah dari tujuh ton menjadi delapan hingga 8,5 ton per ha. Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Aas Asikin Idat mengatakan, peningkatan produksi padi tersebut merupakan hasil penerapan pemupukan yang berimbang dengan pola 5:3:2 atau 500 kg petroganik, 300 kg phonska, dan 200 kg urea per ha.

Realisasi tanam GP3K di Bumirejo per 14 April kemarin mencapai 96 h, sedangkan yang telah panen raya mencapai 39 ha. Menurut Aas, banyak manfaat yang bisa didapatkan petani jika pola 5:3:2 diterapkan di seluruh lahan pertanian padi Kulonprogo. “Jika produktivitas padi meningkat, kesejahteraan petani pun meningkat,” ujar Aas.

lowongan kerja
Harian Umum SOLOPOS Account Executive Toko Solopos, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Vaksinasi dan Herd Immunity

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (16/12/2017). Esai ini karya Riris Andono Ahmad, Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Solopos.com, SOLO–Heboh outbreak penyakit difteri dan rendahnya cakupan imunisasi karena penolakan kelompok anti vaksin menimbulkan keresahan…