Warga memblokir akses kendaraan pengangkut sampah masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Jomboran, Klaten, Sabtu (7/2/2015). Pemblokiran dilakukan sebagai buntut kekesalan warga terkait sikap Pemkab setempat yang tak kunjung menutup TPA. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Warga memblokir akses kendaraan pengangkut sampah masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Jomboran, Klaten, Sabtu (7/2/2015). Pemblokiran dilakukan sebagai buntut kekesalan warga terkait sikap Pemkab setempat yang tak kunjung menutup TPA. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Rabu, 27 April 2016 19:40 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

PENGELOLAAN SAMPAH KLATEN
DPU Cari Lahan Alternatif Pembuangan Sampah

Pengelolaan sampah Klaten, Pemkab Klaten dipusingkan dengan lahan untuk membuang sampah.

Solopos.com, KLATEN–DPU dan ESDM Klaten dipusingkan pencarian lahan guna alternatif pembuangan sampah di Klaten. Selama beberapa hari terakhir pengangkutan sampah dari berbagai tempat pembuangan sementara (TPS) terhenti lantaran tak ada lokasi pembuangan baru.

Kabid Kebersihan dan Pertamanan DPU dan ESDM Klaten, Anwar Shodiq, mengatakan upaya pencarian lokasi baru tempat pembuangan sampah sementara terus dilakukan. Hanya, hingga kini belum menemukan lokasi alternatif tersebut.

Alhasil, sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) berbagai wilayah menumpuk. “Kalau ada yang sanggup dan menawarkan lahan untuk pembuangan sementara, langsung kami lakukan survei,” jelas dia saat dihubungi Solopos.com, Rabu (27/4/2016).

Sebelumnya, aktivitas pembuangan sampah dilakukan ke lahan alternatif di Desa Karangdukuh, Jogonalan setelah pemanfaatan TPA di Desa Joho, Prambanan sudah rampung. Namun, baru sekitar sepekan pembuangan sampah ke lahan alternatif berjalan, aktivitas itu dipastikan berhenti sejak Senin (25/4/2016) setelah ditolak warga.

“Memang sulit mencari tempat [tempat pembuangan akhir sementara] yang bisa diterima semua kalangan,” urai dia.

Terkait lokasi di wilayah Desa Gemampir, Karangnongko yang sebelumnya dipersiapkan guna pembuangan sampah alternatif, Shodiq menegaskan hingga kini DPU dan ESDM masih melakukan pendekatan. “Kami masih melakukan pendekatan ke wilayah,” kata dia.

Pada bagian lain, tumpukan sampah berupa potongan pohon pisang hasil bersih sungai di Kali Ujung, Kecamatan Wedi, Minggu (24/4/2016) teratasi. Hal itu setelah ada lahan untuk pembuangan sampah organik itu di wilayah Kecamatan Cawas. “Sudah ada yang diangkut dan dibawa ke wilayah Cawas bersama warga, sukarelawan, serta DPU dan ESDM. Sebagian ada yang diolah di Pandes untuk dijadikan kompos. Sejak kemarin [Selasa (26/4/2016)] dan hari ini [Rabu (27/4/2016)] sudah diangkut. Jadi, tidak ada masalah,” kata Camat Wedi, Kukuh Riyadi.

Camat Cawas, M. Nasir, membenarkan tumpukan sampah organik disepanjang bantaran Kali Ujung sebagian dibawa ke lahan yang berada di Desa Kedungampel, Cawas. “Kebetulan ada lahan yang siap untuk diurut. Kemarin ada persoalan itu kemudian ada yang menanyakan kesiapan lahan di Kedungampel. Bisa untuk pengurukan asalkan material yang dibuang organik,” jelas dia.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…