Rabu, 27 April 2016 14:40 WIB Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PELESTARIAN BUDAYA
Sesorah Jangan Hanya Mengejar Keindahan Bahasa

Meski masih ada yang mempraktikkan sesorah, seni berbicara di depan umum dengan bahasa Jawa ini mulai bergeser dan menimbulkan banyaknya kesalahan yang berbahaya bila tak segera diluruskan.

 

 

Solopos.com, JOGJA- Dinas Pariwisata Jogja pun mencoba melestarikan sesorah, salah satu teknik pidato bahasa Jawa. Meski masih ada yang mempraktikkan sesorah, seni berbicara di depan umum dengan bahasa Jawa ini mulai bergeser dan menimbulkan banyaknya kesalahan yang berbahaya bila tak segera diluruskan.

Ahli Sesorah Jogja MW Projosaputro Selasa (26/4/2016) mengatakan pengaruh alkulturasi budaya dan modernisasi mengakibatkan adanya penyimpangan dalam sesorah. Salah satu yang paling terdampak adalah gaya bahasa sesorah yang semakin menyimpang dari arti sebenarnya.

“Penyimpangan bahasa juga terjadi. Ini banyak ditemukan saat MC (master of ceremony) sesorah di acara-acara resmi,” kata dia di sela-sela pelatihan Sesorah Jawa Kecamatan Jetis.

Dia menyontohkan, kata “tedhak sungging” yang seringkali dilafalkan dalam sebuah acara. Padahal, makna sebenarnya adalah selingkuh. Selain itu, MC sering menyebut “makempal” untuk mempersilahkan hadirin berfoto bersama.

“Padahal makna makempal sesungguhnya adalah bersetubuh,” ujar dia.

Projo mengatakan kesalahan itu kerap kali terjadi karena pembicara hanya mengejar keindahan bahasa (gaya tutur) tetapi melupakan makna sesungguhnya. Selain itu, terdapat juga campur aduk antara bahasa Jawa Jogja dengan Surakarta dalam sesorah. Seperti istilah kawulo (surakarta) dan kulo (Jogja).

“ Kawulo artinya rakyat sementara Kulo itu saya. Tetapi, karena mengejar keindahan gaya tutur, orang sering menggunakan Kawulo. Padahal itu untuk versi sesorah di Jogja salah,” tegas dia.

Untuk meluruskan sesorah-sesorah yang menyimpang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jogja menggelar Pembinaan Sesorah Bahasa Jawa selama April 2016 ini. Kegiatan tersebut digelar di lima kecamatan berbeda, Wirobrajan, Gondomanan, Gedongtengen, Kotagede dan Jetis. Selain meluruskan penyimpangan yang terjadi, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk melestarikan budaya sesorah.

“Pelatihan sesorah ini untuk semua umur. Bagaimana sesorah ini dapat dilestarikan,” kata Kepala Disbudpar Jogja Eko Suryo Maharso.

Menurut Eko, perkembangan zaman saat ini menyebabkan gaya percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Jawa berangsur-angsur luntur. Banyak keluarga masa kini, katanya, yang tidak menggunakan bahasa Jawa.

“Kalaupun digunakan, terkadang penggunaannya kadang masih kurang. Dengan pembinaan sesorah ini, kami berharap agar masyarakat bisa menggunakan bahasa Jawa Jogja dengan baik dan benar,” harapnya.

lowongan pekerjaan
PT.BANK PERKREDITAN RAKYAT, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Seni dan Kapitalisasi Ruang Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (9/11/2017). Esai ini karya Andi Setiawan, pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah andisemar@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Oktober 2017,  diadakan acara…