Ahmad Alfi (Istimewa) Ahmad Alfi (Istimewa)
Rabu, 27 April 2016 04:10 WIB Kolom Share :

MIMBAR MAHASISWA
Bahasa, Karya, dan Karier

Mimbar mahasiswa, Selasa (26/4/2016), ditulis mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan IAIN Surakarta, Ahmad Alfi.

Solopos.com, SOLO — Saya adalah mahasiswa Jurusan Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Pada mulanya saya tak meresahkan hal ihwal nasib dan masa depan saya dari jurusan bahasa yang tergolong sebagai progam studi baru di kampus saya.

Menjadi menarik ketika saya malah benar-benar menemui kegelisahan teman seangkatan saya yang berniat untuk pindah ke jurusan lain. Ada apa dengan jurusan bahasa? Kegelisahan para mahasiswa jurusan bahasa bermula dari bayang-bayang sulitnya mencari pekerjaan di masa depan.

Alih-alih apa yang bisa di lakukan oleh mahasiswa dari jurusan bahasa, utamanya Jurusan Tadris Bahasa Indonesia? Perkembangan dunia modern menyebabkan persaingan kerja ketat. Begitulah faktanya. Sebagai mahasiswa, tentu saya merasa miris dengan paradigma “kegelisahan berkarier” pada prospek  jurusan.

Dalam konteks ini mahasiswa dimaknai sebagai (calon) pelamar pekerjaan dan bukan wirausaha atau pencipta peluang kerja. Kegelisahan ini patut untuk diperbincangkan. Saya sangat setuju dengan pendapat Mustaqim di Mimbar Mahasiswa, Solopos edisi 4 April 2016. Dalam esainya, Mustaqim menuliskan: apa pun program studinya, jika mahasiswa aktif berkarya, peluang akan datang dengan sendirinya.

Apa yang kurang jelas dari pendapat Mustaqim? Mahasiswa seharusnya sadar dan tahu apa tujuan kuliah. Toh, kuliah bukan untuk bekerja, tapi belajar dan berkarya! Di kampus saya, jurusan yang mengkaji ilmu bahasa adalah Jurusan Sastra Inggris, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, dan Jurusan Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia.

Lima jurusan bahasa tersebut terlalu sempit jika dilihat prospeknya hanya sebagai seorang pengajar, padahal tak demikian. IAIN Surakarta telah menerapkan Kurikulum Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT).

Kebijakan dari KKNI dan SNPT ialah agar setiap jurusan diharapkan mampu mengeksplorasi pengetahuan dengan menciptakan produk (karya). Secara tidak langsung kurikulum ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif.

Misalnya, tiap tahun Jurusan Sastra Inggris dan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris selalu menggelar bazar fairy sale. Kegiatan tahunan ini bertujuan mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dengan berkarya. Karya yang dipamerkan dapat dijadikan sebagai media pembelajaran, yakni berupa film dan game yang berbasis personal computer (PC), website, dan android.

Barangkali mahasiswa jurusan bahasa malas untuk sekadar berimajinasi. Pikiran yang out of the box dalam berkarya semakin sulit ditemui. Ini menjadi citra mahasiswa masa kini yang (mayoritas) lebih pantas disebut “pengekor” ketimbang “pelopor”. Menyedihkan.

Sekali lagi, mahasiswa jurusan bahasa tak usah khawatir esok akan jadi manusia jenis apa (baca: pekerjaan). Peluang mahasiswa jurusan bahasa sebenarnya lebih luas jika diproyeksikan dengan karya. Mustaqim telah menegaskan bahwa dengan berkarya mahasiswa jurusan bahasa ikut membangun peradaban. [Baca selanjutnya: Orang Besar]

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…