Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters) Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Rabu, 27 April 2016 17:15 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Boyolali Share :

LEPTOSPIROSIS BOYOLALI
Dinkes Waspadai Wilayah Rawan Leptospirosis Bergeser ke Sawit, Ini Alasannya

Leptospirosis Boyolali, peredaran penyakit akibat tikus sudah bergeser ke wilayah Boyolali selatan.

Solopos.com, BOYOLALI–Kawasan rawan penyakit leptospirosis di Boyolali ditengarai telah bergeser ke wilayah selatan.

Sebelumnya penyakit leptospirosis banyak ditemukan di wilayah Nogosari dan Ngemplak. “Mulai tahun lalu, kasus ini kami temukan di Sawit,”kata Kabid Pengendalian Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Achmad Muzzayin, saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (27/4/2016).

Distribusi penyakit ke wilayah selatan bisa terjadi secara kebetulan atau bisa karena faktor tikus itu sendiri. “Leptospirosis adalah penyakitnya tikus. Mungkin karena ada penularan antartikus sehingga sampai bergeser ke wilayah selatan. Manusia bisa terkena penyakit ini jika memang pekerjaannya kerap berhubungan dengan tikus, seperti di sawah atau rumah yang kotor.”

Beberapa kasus leptospirosis, biasanya terjadi terjadi di lingkungan rumah yang berdekatan dengan sawah. Setelah Dinkes melaksanakan epidomologi di wilayah rawan leptospirosis, penyakit ini bisa menular ke manusia setelah ada akses tikus dari sawah yang lari ke rumah penduduk.

Dia menyebutkan, 2014 ada tujuh kasus leptospirosis di Nogosari dan Ngemplak, tiga di antaranya meninggal dunia. Sedangkan 2015, hanya ada dua kasus dan tidak ada yang meninggal dunia dan keduanya ada di Sawit.

“Tahun ini kasus leptospirosis belum kami temukan.”Meskipun tren penyakit ini menurun, masyarakat diminta tetap mewaspadai bahaya penyakit leptopirosis. Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan karena tikus, bisa berupa gigitan, bekas kencing tikus, dan sebagainya.

Dampak luar biasa dari penyakit ini adalah gagal ginjal. Biasanya, leptospirosis ditandai dengan penyakit yang mirip dengan penyakit lainnya. Jika pasien tidak bercerita kepada dokter terkait riwayat misalnya lingkungannya banyak tikus atau pernah digigit tikus, kemungkinan dokter akan salah mendiagnosa. “Bisa seperti penyakit demam berdarah atau hepatitis. Kalau ada kekeliruan mendiagnosis, biasanya diduga demam berdarah. Padahal demam berdarah tidak butuh antibiotik. Sementara, leptospirosis harus diberi antibiotik, kalau terlambat akan timbul gagal ginjal.”

Untuk mencegah penyakit ini, petani di sawah yang sawahnya terserang hama tikus harus bekerja dengan pelindung diri. Masyarakat juga jangan buang air besar sembarangan (BABS). “Satu lagi jangan suka mandi disungai atau sungai dekat sawah. Kalau tikus populasinya banyak bisa jadi kencing di sungai itu, bakteri leptospira dari tikus bisa masuk ke tubuh manusia.”

Dia juga mengajak masyarakat untuk senantiasa menerapkan pola hidup bersih agar rumah tidak digunakan untuk sarang tikus.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…