Peserta Lomba Berbusana Kebaya berlenggak-lenggok di catwalk gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Rabu, 27 April 2016 17:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

HARI KARTINI
Begini Gaya Centil Ibu-Ibu Ponorogo Ikuti Lomba Berkebaya

Hari Kartini di Ponorogo diperingati dengan lomba berbusana kebaya untuk wanita dengan berat badan lebih dari 80 kg.

Solopos.com, PONOROGO – Sebanyak 55 wanita berkebaya berlenggak-lenggok di catwalk di Sasana Praja kompleks Kantor Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016).

Puluhan perempuan dengan berat badan di atas 80 kg itu mengikuti Lomba Berbusana Kebaya Khas Ponorogo dalam Rangka Hari Kartini tahun 2016 yang diselenggarakan Tim Penggerak PKK Ponorogo.

Pantauan Madiunpos.com di lokasi, 55 wanita itu mengenakan pakaian kebaya, jarit, sanggul, dan sepatu berhak tinggi.

Awalnya, peserta secara berurutan tampil di catwalk. Selanjutnya, satu per satu ibu-ibu ini melangkahkan kaki di arena catwalk bak peragawati andal. Sesekali mereka melempar senyum dan melambaikan tangan ke arah penonton dan sejumlah dewan juri.

Jepretan kamera juga tak henti-hentinya diarahkan ke peserta lomba. Gelak tawa penonton pecah saat ibu-ibu ini berlaku centil dengan melambaikan tangan ke penonton.

Salah satu peserta lomba kebaya, Selvi Damayanti, menuturkan agak kesulitan mengenakan pakaian kebaya yang dipadu dengan jarit. Dia mengenakan kebaya kutu baru dengan bawahan berupa jarit batik dengan motif merak khas Ponorogo.

Selvi yang merupakan PNS di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Ponorogo ini menyampaikan untuk mengikuti lomba busana kebaya harus memiliki berat badan di atas 80 kg.

“Berat badan saya sudah lebih dari 80 kg, jadi bisa ikut lomba,” ujarnya kepada Madiunpos.com sambil terkekeh. Bagi dia, kegiatan lomba berbusana kebaya ini unik dan berbeda.

Ini menandakan kegiatan lomba berbusana pada saat Hari Kartini tidak hanya dimiliki wanita yang memiliki tubuh langsing.

Ketua Tim Penggerak PKK Ponorogo, Sri Wahyuni, mengatakan dipilihnya ibu-ibu dengan berat badan lebih dari 80 kg untuk mengapresiasi ibu-ibu tersebut.

“Ibu-ibu yang memiliki tubuh yang gemuk kan sulit untuk dibuat kecil. Untuk itu, kami ingin mengapresiasi kepada ibu-ibu itu dan memberikan motivasi kepada mereka supaya tetap percaya diri dengan kondisi tubuhnya. Gemuk itu tidak menghalangi mereka untuk tampil cantik mengenakan kebaya,” jelas dia.

Sri Wahyuni berharap pada peringatan Hari Kartini pada tahun ini bisa membuat wanita di Ponorogo menjadi lebih maju.

Selain itu, mereka juga bisa mengembangkan diri di pekerjaan masing-masing, seperti menjadi pegawai berprestasi, karyawan berprestasi, maupun ibu rumah tangga yang baik.

Peserta lomba berkebaya khas Ponorogo tampil di gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Peserta lomba berkebaya khas Ponorogo tampil di gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Peserta lomba berkebaya khas Ponorogo tampil di gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Peserta lomba berkebaya khas Ponorogo tampil di gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Peserta lomba berkebaya khas Ponorogo tampil di gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Peserta lomba berkebaya khas Ponorogo tampil di gedung Sasana Praja Pemkab Ponorogo, Rabu (27/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

LOWONGAN PEKERJAAN
Editor Biologi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…