Pekerja menyelesaikan pembangunan struktur gedung convention hall di lokasi proyek tepatnya di kawasan Ngebong, Boyolali Kota. Proyek tersebut akan menghabiskan anggaran hingga Rp18 miliar. Foto diambil pekan lalu. (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos) Pekerja menyelesaikan pembangunan struktur gedung convention hall di lokasi proyek tepatnya di kawasan Ngebong, Boyolali Kota. Proyek tersebut akan menghabiskan anggaran hingga Rp18 miliar. Foto diambil pekan lalu. (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Selasa, 26 April 2016 14:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

HARGA BAHAN BANGUNAN
Harga Besi Naik

Harga bahan bangunan terus naik

Solopos.com, SLEMAN-Harga besi mengalami kenaikan sekitar 30%. Kenaikan terjadi sejak awal bulan Maret lalu hingga saat ini.

Pemilik Toko Bahan Bangunan Oentoeng di Jl. Godean No.4 Sleman Henry Gunawan Cahyono Putro mengatakan, besi naik karena pengaruh harga barang-barang kebutuhan yang juga naik. Menurutnya, dalam setahun bahan bangunan selalu naik. Puncaknya biasanya terjadi menjelang Idulfitri. “Tapi beberapa tahun belakangan, harga-harga selalu curi start kenaikannya,” tutur Henry, Senin (25/4/2016).

Pada bulan Februari 2016, besi 8 mm Standar Nasional Indonesia (SNI) dijual seharga Rp30.000 per batang dan bulan Maret naik menjadi Rp36.000. Harga tersebut berlaku di tingkat pedagang. Sementara di tingkat pengecer bisa lebih mahal 10%.

Kenaikan besi tersebut secara langsung ikut mengerek harga bahan bangunan lain berbahan besi. Seperti besi beton, paku, dan pipa-pipa besi. “Paku per kilo sekarang sudah Rp9.200-an. Bulan kemarin masih Rp8.800-an,” kata Henry.

Sementara untuk harga triplek masih cenderung stabil. Hal ini dikarenakan triplek merupakan produk dalam negeri sehingga perhitungan kenaikan bahan produksinya tidak sedramatis barang-barang besi yang sangat terpengaruh dolar.

“Harga triplek di pasaran terpengaruh apabila nilai dolar naik banyak. Apabila dolar naik maka kuota permintaan lokal akan dikalahkan dengan permintaan ekspor karena pengusaha bisa untung banyak dengan selisih harga dolar apabila dijual keluar negeri,” kata Henry.

Sebaliknya, jika dolar stabil atau cenderung turun maka pasar lokal akan dibanjiri dengan hasil produksi pabrik-pabrik yang tidak terserap untuk ekspor. Dalam kondisi seperti ini, lanjut Henry, biasanya harga triplek di pasaran akan turun.

Saat ini harga triplek ukuran 3 mm adalah Rp44.000 per lembar. Harga ini bertahan sejak Februari lalu.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…