Camat Gondangrejo, Bambang Tri Hastaryo (tiga dari kanan), didampingi Kades Plesungan, Waluyo (dua dari kanan) memeriksa tempat penampungan air milik warga Blembem, Desa Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Selasa (26/4/2016) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos) Camat Gondangrejo, Bambang Tri Hastaryo (tiga dari kanan), didampingi Kades Plesungan, Waluyo (dua dari kanan) memeriksa tempat penampungan air milik warga Blembem, Desa Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Selasa (26/4/2016) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Selasa, 26 April 2016 22:40 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

DEMAM BERDARAH KARANGANYAR
2 Anak Balita di Plesungan Opname Terserang DBD, Petugas Lakukan Fogging

Demam berdarah Karanganyar, dua anak balita di Dusun Blembem, menderita DBD.

Solopos.com, KARANGANYAR–Penyakit demam berdarah dengue (DBD) menyerang Dusun Blembem, Desa Plesungan, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, tiga pekan terakhir.

Lima orang masuk rumah sakit lantaran terserang DBD sepanjang April ini. Tiga orang di antaranya sudah pulang ke rumah, sedangkan dua lainnya masih dirawat di RS. Mirisnya, dua orang yang masih dirawat di RS adalah bayi berumur enam dan delapan bulan.

Penjelasan itu disampaikan Kepala Desa (Kades) Plesungan, Waluyo, saat ditemui Solopos.com di sela kegiatan pemantauan jentik nyamuk di rumah warga Blembem, Selasa (26/4/2016). “Anak berumur enam bulan, dan delapan bulan masih dirawat RS,” tutur dia.

Waluyo mengakui kesadaran warga Blembem untuk mengantisipasi penyakit DBD sangat kurang. Hal itu terlihat dari tingginya angka positif jentik di rumah-rumah warga. Sekitar 100 rumah warga Blembem diperiksa petugas gabungan Selasa siang.

Pemeriksaan dilakukan oleh lima tim, termasuk tim yang dipimpin oleh Camat Gondangrejo, Bambang Tri Hastaryo. Pemeriksaan dilakukan di tempat-tempat penampungan air warga. “Dari 10 rumah yang diperiksa tim saya, tujuh rumah ada jentiknya,” kata dia.

Waluyo mengaku sudah meminta pengurus rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT) untuk menggerakkan warga melakukan kerja bakti bersih-bersih lingkungan. “Dua pekan setelah muncul kasus yang pertama, ternyata muncul kasus lagi,” sesal dia.

Camat Gondangrejo, Bambang Tri Hastaryo, prihatin melihat banyaknya tempat penampungan air yang terdapat jentik nyamuk. Bahkan ada salah satu warga Blembem yang dia minta langsung menguras tempat penampungan air lantaran banyaknya jentik.

“Saya ngeri sekali melihat begitu banyak jentik nyamuk. Sampai pemilik rumahnya saya paksa langsung menguras tempat penampungan airnya. Jentik nyamuk kami temukan di bak mandi, bak penampungan air, dan tempat minum burung peliharaan,” tutur dia.

Bambang menjelaskan pengasapan (fogging) akan dilakukan di Blembem Rabu (27/4/2016) pagi. Pengasapan adalah upaya terakhir mencegah perkembangbiakan jentik nyamuk. Padahal menurut dia langkah paling ideal adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) plus.

“Sayangnya warga seringkali teledor saat kondisi masih aman. Setelah ada kasus DBD baru gendandapan. Mestinya gerakan warga dilakukan untuk mencegah penyakit DBD. Langkah paling tepat dengan pemberantasan sarang nyamuk plus,” terang Bambang.

 

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…