Para Abdi dalem saat melakukan prosesi nawu sendang secara simbolis, di Sendang Seliran kawasan kompleks Masjid Mataram Kotagede, Minggu (24/4/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja) Para Abdi dalem saat melakukan prosesi nawu sendang secara simbolis, di Sendang Seliran kawasan kompleks Masjid Mataram Kotagede, Minggu (24/4/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 25 April 2016 11:20 WIB Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Tradisi Nawu Sendang Seliran Menarik Wisatawan

Tradisi nawu Sendang Seliran menarik wisatawan untuk menyaksikannya

Solopos.com, BANGUNTAPAN – Upacara tradisi Nawu Sendang Seliran yang berlangsung setiap tahun sejak sembilan tahun lalu semakin banyak menyedot antusiasme dari wisatawan yang datang ke kompleks bangunan bersejarah Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Minggu(24/4/2016).

Prosesi Nawu Sendang Seliran sendiri yakni prosesi menguras kolam mata air yang berada di kawasan komples masjid tersebut, yang setiap hari masih digunakan oleh masyarakat sekitar seperti mengambil air dan mandi.

Abdi Dalem Juru Kunci Pasarean Kuthogedhe Mataram, Mas Lurah Hastonodanarto mengatakan memang dulu upacara nawu sendang belum dilakukan, namun mengingat sendang yang masih digunakan setiap hari maka pihak dirasa perlu melakukan pengurasan demi menjaga kebersihan.

“Dahulu memang tidak ada, namun upacara ini juga bukan serta merta hanya menguras sendang biasa saja, ada banyak filosofinya antara lain dengan diadakannya nawu sendang, kita serasa seperti membersihkan segala kotoran-kotoran yang ada dalam diri dan dalam hati,” katanya.

Kemudian dengan adanya kegiatan ini untuk melestarikan tradisi lantas diadakan prosesi upacaranya, dengan demikian kegiatan untuk membersihkan sendang juga mampu dikemas dengan sebuah tradisi yang akan semakin mengangkat kebudayaan dan kesenian.

Selain melihat prosesi nawu sendang, warga dan para wisatawan yang datang juga dapat menyaksikan prosesi lain, yakni kirab gunungan dan jodang. Jodang yang nantinya digunakan untuk membawa alat-alat pada saat melaksanakan prosesi nawu sendang bersama dikirab dari kantor Kelurahan Jagalan menuju Kompleks Masjid Gedhe Mataram.

Dalam kirab tersebut ada juga gunungan yang berisi beragam makanan, terutama makanan khas Kotagede seperti Kembang Waru, Kipo, dan Yangko. Selain itu, gunungan juga berisi sayuran dan buah-buahan seperti terong, kacang panjang, cabai, dan nanas.

Mas Lurah Hastonodanarto menambahkan mengenai adanya dua sendang yang dibersihkan oleh dua keraton, yakni Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, ia menjelaskan, karena Masjid Gede Mataram dan Makam Raja Mataram adalah milik dua keraton.

“Jadi, tempat ini milik dua keraton. Karena di sini merupakan peninggalan Mataram sebelum terpecah, maka segala sesuatunya dibagi menjadi dua. Masjid dibagi dua, kanan Surakarta, kiri Yogyakarta. Begitu juga dengan sendang, di mana Sendang Kakung untuk Surakarta, dan Sendang Putri untuk Yogyakarta,” tambahnya.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…