Pengendara sepeda motor melintas di jalan tol Solo-Kertosono (Soker) yang telah disebari batu oleh warga di Desa Sindon, Ngemplak, Boyolali, Minggu (25/4/2016). (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos) Pengendara sepeda motor melintas di jalan tol Solo-Kertosono (Soker) yang telah disebari batu oleh warga di Desa Sindon, Ngemplak, Boyolali, Minggu (25/4/2016). (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos/dok)
Senin, 25 April 2016 10:25 WIB Muhammad Ismail/JIBI/Solopos Boyolali Share :

TOL SOLO-KERTOSONO
Lapangan Desa Disewakan ke Kontraktor Tol Soker, Warga Protes

Tol Solo-Kertosono pembangunannya akan memanfaatkan lapangan desa Canden.

Solopos.com, BOYOLALI – Rencana pemerintah desa (Pemdes) Canden, Sambi menyewakan lapangan desa kepada pelaksana pembangunan jalan tol Solo-Kertosono (Soker) mendapat pertentangan dari warga. Warga menilai keputusan menyewakan lapangan tersebut keputusan sepihak lantaran tidak pernah melibatkan warga.

Tokoh pemuda masyarakat Canden, Hadris, mengatakan sebagian lapangan desa Canden disewakan kontraktor Soker selama tiga tahun dengan nilai sewa seniai Rp120 juta. Lapangan tersebut rencananya dijadikan lokasi batching plan atau pengadukan beton cor untuk pembangunan jalan tol Soker.

“Warga terancam kehilangan satu-satunya lapangan sepakbola selama tiga tahun setelah pemdes menyewakannya ke kontraktor tol Soker,” ujar Hadris kepada wartawan, Minggu (25/4/2016).

Hadris mengatakan meskipun hanya sebagian lapangan yang disewakan, warga tetap khawatir dengan adanya aktivitas pengadukan beton cor dapat mengancam keselamatan warga. Selain itu, banyaknya truk melon membawa beton cor keluar masuk desa sudah pasti akan menimbulkan debu dan warga terancam terkena penyakit ispa.

“Lapangan Canden merupakan fasum [fasilitas umum] seharusnya tidak bisa begitu saja disewakan kepada orang lain dalam janga waktu lama,” kata dia.
Ia mengatakan informasi dari pemdes uang hasil sewa lapangan akan digunakan untuk memperbaiki gedung sekolah TK Pertiwi Desa Canden. Menyewakan lapangan desa kepada pelaksana pembangunan jalan tol tidak melibatkan warga.

“Kades [kepala desa] mengeluarkan keputusan sepihak menyewakan lapangan desa tanpa ada rapat bersama warga. Kami meminta pertanggungjawaban pemdes dan membatalkan rencana itu,” ujar dia.

Ia mengaku sudah beberapa kali berusaha bertemu dengan kades untuk meminta penjelasan tetapi gagal. Warga akhirnya kesal dan memasang spanduk protes yang dipasang di jaring gawang lapangan sepak bola.

Sementara itu, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Canden, Ahmadi, mengaku baru diberitahu pemdes kalau lapangan sudah dikeruk untuk persiapan pembangunan lokasi batching plan pada Jumat (23/4/2016) malam.

“Kami diundang rapat mendadak untuk membiacarakan soal penyewaan lapangan desa kepada pelaksana pembangunan jalan tol Soker. BPD juga kaget dengan rencana itu,” kata dia.

Terpisah, Kades Canden, Joko Mulyono, mengatakan menyewakan lapangan desa adalah kebijakan pemdes. Uang hasil sewa senilai Rp120 juta selanjutnya digunakan untuk memperbaiki sekolah TK Pertiwi Canden yang kondisinya sekarang sangat memprihatinkan.

“Saya prihatin dengan kondisi sekolah TK Pertiwi saat ini. Kondisi sekolah yang rusak tersebut membuat warga memilih menyekolahkan anaknya ke luar desa,” kata dia.

Menurut Joko, dalam waktu dekat akan menjelaskan persoalan ini kepada warga. Hal itu diperlukan agar warga yang tidak setuju bisa memahami niat baik kades untuk memajukan desa.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…