Pelanggan memilih produk tas ramah lingkungan yang dijual di Hypermart Hartono Mall Solo Baru, Minggu (28/2/2016). Hypermart mendukung program pemerintah untuk mengurangi sampah plastik dengan menerapkan kantung plastik berbayar. (Shoqig Angriawan/JIBI/Solopos) Pelanggan memilih produk tas ramah lingkungan yang dijual di Hypermart Hartono Mall Solo Baru, Minggu (28/2/2016). Hypermart mendukung program pemerintah untuk mengurangi sampah plastik dengan menerapkan kantung plastik berbayar. (Shoqig Angriawan/JIBI/Solopos)
Senin, 25 April 2016 17:15 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos Solo Share :

TAS PLASTIK BERBAYAR
Pemkot Solo Belum Terima Laporan Alokasi Penjualan Kantong Plastik Berbayar

Tas plastik berbayar, peritel belum melaporkan penjualan kantong plastik berbayar.

Solopos.com, SOLO–Pemerintah Kota (Pemkot) Solo hingga kini belum menerima laporan alokasi dana hasil penjualan kantong plastik berbayar yang sempat diterapkan sejumlah peritel yang mengikuti kebijakan diet sampah plastik beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, pemerintah pusat mencanangan gerakan “Diet Kantong Plastik”, Minggu (21/2/2016). Hasil kebijakan tersebut direspons peritel dengan membatasi penggunaan kantong plastik. Beberapa langkahnya dengan mengarahkan konsumen menggunakan kardus bekas, membawa tas belanja sendiri, atau membayar tas kresek Rp200/lembar.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, menyatakan praktik penjualan kantong plastik mengarah pada komersialisasi kantong plastik. Maret lalu dia meminta peritel yang beroperasi di Solo menyetop penjualan plastik berbayar.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Solo Hasta Gunawan berencana memanggil sejumlah peritel yang sempat menerapkan kebijakan kantong plastik berbabayar di beberapa toko modern di Kota Bengawan.

“Sampai sekarang kami belum menerima laporan. Duit hasil penjualan plastik kemarin dikemanakan. Semuanya harus jelas dan dilaporkan. Karena itu duit masyarakat. Pekan ini kami undang peritel untuk menindaklanjuti komitmen mereka pada pengurangan sampah plastik,” terangnya saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Senin (25/4/2016).

Hasta menjelaskan hingga saat ini pengurangan kantong plastik dari toko modern belum signifikan mengurangi konsumsi sampah plastik di Solo. “Saya memang belum menghitung dengan terperinci. Tapi kasat mata saja saat ini masih banyak warga yang keluar dari supermarket, mal, atau minimarket membawa tas plastik. Itu jadi indikator kalau diet sampah plastik belum optimal berjalan,” jelasnya.

Menurut Hasta, Kota Solo membutuhkan terobosan baru agar warga benar-benar tergerak meninggalkan kantong plastik saat berbelanja. “Kami akan koordinasi dengan BLH [Badan Lingkungan Hidup] untuk menyusun formula baru gerakan pengurangan kantong sampah. Setelah bertemu dengan BLH rencananya kami undang peritel untuk sosialisasi,” kata dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…