Ilustrasi (Espos/Tri Rahayu)
Senin, 25 April 2016 23:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

KESEHATAN TULUNGAGUNG
Tulungagung Masih Butuh 155 Bidan Desa

Kesehatan Tulungagung memberitakan tentang tenaga bidan desa yang minim.

Solopos.com, TULUNGAGUNG – Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, masih membutuhkan 155 tenaga bidan desa untuk melayani masyarakat setempat.

“Saat ini tenaga bidan yang ada di Tulungagung baru 115 orang, tidak seimbang dengan jumlah desa yang ada,” kata Kasubbag Umum Dinkes Tulungagung, Sriyono, di Tulungagung, Minggu (24/4/2016). Untuk diketahui, total desa di Tulungagung berjumlah 270 desa.

Sriyono mengatakan idealnya satu bidan bertugas di satu desa agar perannya dalam menangani ibu hamil maupun ibu menyusui bisa optimal.

Namun karena tidak ada atau belum ada kebijakan perekrutan pegawai negeri sipil baru, termasuk untuk tenaga bidan, keberadaan tenaga kesehatan dengan spesialisasi pelayanan ibu hamil/menyusui di tingkat desa kurang.

Saat ini, kata dia, satu bidan membawahi atau ditugaskan untuk melayani ibu-ibu hamil di beberapa desa. “Kondisi ini bisa terus memburuk jika tidak segera ada kebijakan rektrutmen mengingat setiap tahun ada saja PNS bidan yang memasuki masa pensiun,” kata Sriyono.

Sriyono menguraikan 115 tenaga bidan yang ada saat ini sebagian besar masih berstatus pegawai tidak tetap (PTT).

Menurut dia, Dinkes telah mengusulkan nama 115 PTT bidan itu untuk diproses pengangkatannya menjadi PNS. Namun Sriyono mengaku belum bisa memastikan kebijakan pusat tahun ini. “Untuk desa yang belum memiliki bidan ada sekitar 39 desa,” ujar dia.

Sriyono mengatakan kekurangan tenaga medis tidak hanya terjadi pada kategori tenaga bidan, tetapi dokter umum dan perawat. Menurutnya, masih ada puskesmas yang hanya memiliki satu dokter umum.

Padahal idealnya, kata dia, satu puskesmas tanpa rawat inap membutuhkan dua dokter umum, sedangkan puskesmas dengan rawat inap setidaknya ada tiga dokter umum.

lowongan pekerjaan
OPTION EXECUTIVE KTV & BAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…