Abdi dalem keraton menyelesaikan mengganti seng untuk atap di Sitihinggil Kidul Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kamis (21/4/16). Penggantian seng tersebut untuk revitalisasi atap Sitihinggil Kidul sebagai upaya pelestarian kawasan Benda Cagar Budaya (BCB). (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Senin, 25 April 2016 15:15 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

KERATON KASUNANAN SOLO
Ini Asal Dana Renovasi Sitihinggil Kidul

Keraton kasunanan Solo menggunakan dana pengelolaan PKL untuk renovasi Sitihinggil Kidul.

Solopos.com, SOLO–Keraton Solo merenovasi atap bangunan Sitihinggil Kidul menggunakan dana yang dikumpulkan dari pedagang kaki lima (PKL) Alun-alun Kidul (Alkid).

Ketua Pengelola dan Pelaksana Alkid Keraton Solo, K.R.M.H. Adityo Soeryo Harbanu, mengakui perbaikan atap bangunan Sitihinggil Kidul memanfatkan dana dari PKL Alkid. Dana perbaikan belasan juta tersebut, menurut dia, diambil dari hasil pengelolaan retribusi PKL. Harbanu menegaskan renovasi atap bangunan Sitihinggil tidak menggunakan dana pemerintah.

“Perbaikan seng Sitihinggil kidul saya pakai dana retribusi dari PKL Alkid yang saya kumpulkan setiap harinya. Saya sisihkan uang itu. Saya tidak menggunakan dana pemerintah, baik pemerintah kota maupun pemerintah pusat,” kata Harnanu saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (25/4/2016).

Harbanu memastikan PKL Alkid tidak keberatan dana retribusi dari mereka digunakan untuk renovasi salah satu bangunan Keraton Solo. Bahkan, menurut dia, perbaikan tersebut atas usulan dari beberapa PKL Alkid. Harbanu menjelaskan perbaikan atap bangunan Sitihinggil Kidul sebagai bentuk pelestarian bangunan bersejarah.

“Saya sebagai Ketua Pengelola dan Pelaksana Alkid, sekaligus sentono dalem wajub nguri-nguri bangunan peninggalan leluhur sanjaya. Saya baru  pembenahan seng yang bocor. Seng ada yang saya ganti dan ada yang hanya ditambal. Pembenahan bagian lain di Sitihinggil Kidul nanti saya bicarakan dulu dengan pengageng Keraton Solo,” jelas Harbanu.

Disinggung soal pengeluaran untuk perbaikan atap bangunan Sitihinghil Kidul Harbanu menyebut, sampai Rp15 juta sampai Rp20 juta. Dia menjelaskan kompleks Sitihinggil Kidul kali terakhir mendapat penanganan renovasi pada 2000 lalu. Harbanu menilai perbangikan bangunan atap Sitihinggil Kidul paling mendesak untuk dilakukan.

“Perbaikan Sitihinggil Kidul terakhir kali sekitar 2000. Saat itu pembenahan dilakukan di berbagi bagian. Kali ini saya membenahi atap yang bocor dulu. Kalau seng enggak didandani, nanti kayu di bawah bisa cepat lapuk.  Kalau dibiarkan rusak, saya sebagai pengelola dikira tidak merawat. Sitihinggil Kidul digunakan untuk pentas wayang dan kegiatan budaya lainnya,” papar Harbanu.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…