Siswa SMP sedang melukis diatas dinding sepanjang sungai Buntung di wilayah Karangwaru, Tegalrejo, Jogja, Minggu (24/4/2016). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April. (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Siswa SMP sedang melukis diatas dinding sepanjang sungai Buntung di wilayah Karangwaru, Tegalrejo, Jogja, Minggu (24/4/2016). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April. (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 25 April 2016 01:20 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Kali Buntung, Kini Tak Lagi Kumuh

Kali Buntung di Jogja terus dilakukan penataan oleh warga

Solopos.com, JOGJA– Penataan pinggiran sungai Buntung Jogja terus dilakukan oleh warga.

Saat ini kedua sisi sungai sudah tersedia jalan dan taman yang dibangun sejak 2011 lalu dengan panjang sekitar 126 meter oleh warga.

Penataan pinggiran Sungai Buntung sudah sampai pada segmen kedua dengan bantuan dana dari Pemerintah Kota Jogja, Pemda DIY, dan pemerintah pusat. Rencananya penataan sampai dua kilometer yang terbagi dalam empat segmen.

Bandono, warga yang juga bagian dari tim inti perencanaan partisipatif, Program Penataan Lingkungan Pemukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) Kelurahan Karangwaru Kecamatan Tegalejo, Jogja menjelaskan warga juga akan membangun penataan ruang terbuka hijau (RTH) di utara Hotel Tentrem, Jalan AM.Sangaji, dan penataan lingkungan perekonomian dengan membangun pusat kuliner di Bangirejo.

“Target semuanya selesai tahun ini,” kata Bandono, di sela melukis mural dalam rangka Hari Bumi, Minggu (24/4/2016).

Bandono mengisahkan sebelum 2011 lalu, pinggiran sungai Buntung terlihat kumuh, bahkan menjadi tempat pembuangan sampah, mulai dari sampah rumah tangga sampai pembuangan limbah. Bahkan interaksi warga yang terpisahkan dengan sungai, kata Bandono, sebelumnya tidak ada saling sapa.

“Sekarang sudah ada jembatan penghubung, warga sudah saling menjaga tidak membuang sampah ke kali, bahkan sudah merelakan tanahnya untuk dibuat jalan dan taman,” ujar dia.

Kanan kiri sepanjang Sungai Buntung di wilayah Karangwaru memang sudah terlihat rapi, terdapat akses jalan sepanjang sungai, beberapa taman juga disediakan untuk bermain anak.

Beberapa bangunan gubug (gasebo) nyaman untuk mengadakan berbagai acara, seperti acara peringatan Hari Bumi, kemarin. Warga sekitar sudah merelakan tanahnya mulai dari 50-100 meter untuk kepentingan penataan.

Suparmono, 57, salah satu warga yang merelakan tanahnya diberikan untuk membangun taman dan jalan setapak di belakang rumahnya. “Dulu sebelum ada jalan dan taman kumuh,” kata dia.

Rumah Suparmono pun saat ini berubah dari yang tadinya membelakangi sungai menjadi menghadap ke sungai. Bekas dapur ia jadikan sebagai warung kelontong yang baru bukan bersamaan dengan proses penataan Sungai Buntung.

Menurut Subandono, tiap pekan banyak kunjungan tamu dari berbagai daerah bahkan tamu dari luar negeri yang sengaja datang untuk studi banding penataan pinggiran sungai.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…