Pengunjung menerobos garis polisi yang dipasang di semburan air bercampur lumpur di Desa Jari, Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (10/4/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Aguk Sudarmojo)
Senin, 25 April 2016 17:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

FENOMENA ALAM BOJONEGORO
Semburan Lumpur di Desa Jari Berhenti, Tapi...

Fenomena alam Bojonegoro yakni semburan lumpur di Desa Jari telah berhenti.

Solopos.com, BOJONEGORO – Sejak tiga hari lalu, semburan lumpur di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, berhenti. Namun di lokasi semburan yang diberi batas garis polisi masih mengeluarkan gas bercampur air.

Perangkat Desa Jari, Waki, mengatakan di lokasi semburan masih ada tiga titik yang mengeluarkan gas bercampur air dengan kondisi tidak lagi keruh, tapi jernih.

“Semburan gas di lokasi masih ada, karena di tiga titik semburan muncul gelembung-gelembung udara,” ucap dia di Bojonegoro, Senin (25/4/2016).

Dia memberikan gambaran tiga titik semburan yang mengeluarkan gelembung, kini mengelompok menjadi satu kubangan. Sedangkan Sungai Keramat, yang menjadi buangan semburan air bercampur lumpur, yang semula keruh, sekarang menjadi jernih.

Waki menambahkan ahli tektonik dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Jatmika Setiawan, dengan peneliti lainnya memastikan air yang keluar dari semburan baik bagi tanaman.

“Air yang keluar dari semburan tidak berbahaya, justru bagus untuk tanaman, karena mengandung zat yang menyuburkan tanaman,” kata Waki.

Meski semburan lumpur berhenti, kata dia, warga yang mengunjungi Desa Jari tidak berkurang, bahkan meningkat. Mereka datang dari luar daerah, seperti Surabaya, Nganjuk, dan lainnya.

“Pengunjung tetap mendekat, meskipun ada papan larangan awas gas berbahaya dan tanah ambles,” terang dia.

Sekretaris Kecamatan Gondang, Bojonegoro Basuki, menegaskan semburan gas yang keluar tidak berbahaya. “Tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta tidak hanya menyatakan semburan tidak berbahaya, bahkan langsung mencoba lumpur yang keluar dari semburan langsung dijilat,” kata dia.

Dia menyatakan Tim UPN Veteran Yogyakarta meminta papan pengumuman awas gas beracun dan tanah ambles yang dipasang Dinas ESDM Bojonegoro di tiga lokasi di kawasan setempat dicopot.

“Tim UPN Veteran Yogyakarta menyarankan lokasi Jari, dikembangkan sebagai lokasi objek wisata, agar ada pemasukan bagi desa,” beber dia.

Peneliti Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Yogyakarta Hanik Humaida, belum bisa menjelaskan hasil penelitian terkait contoh air, lumpur dan gas yang diambil dari lokasi semburan Jari.

“Uji laboratorium kandungan gas, air dan lumpur di Jari, kemungkinan baru selesai pekan ini,” ucap dia.

Semburan lumpur bercampur air dan gas di Desa Jari, Kecamatan Gondang, diketahui warga pada 7 April 2016, yang sebelumnya didahului dengan gempa dengan berkisar 2,5-4 Skala Richter.

LOWONGAN PEKERJAAN
Administrasi ( Wanita ) & Manager ( Pria), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…