Salah satu pemain PSIR Rembang, Agus, terluka di bagian wajah saat pertandingan babak kedua dalam final Piala Sukowati 2016 di Stadion Taruna, Sragen, Minggu (24/4/2016). (tri Rahayu/JIBi/Solopos)
Minggu, 24 April 2016 22:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

PIALA SUKOWATI 2016
Foto-Foto Rusuh LDII Selection Vs PSIR Rembang

Piala Sukowati 2016, antara LDII Selection Vs PSIR Rembang berakhir rusuh.

Solopos.com, SRAGEN — Piala Sukowati LDII Selection vs PSIR Rembang  2016 diwarnai kerusuhan, di Stadion Taruna Sragen, Minggu (24/4/2016) sore.

Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman menyerahkan tropi juara I turnamen sepakbola Piala Sukowati 2016 dan uang pembinaan Rp10 juta kepada perwakilan kesebelahan LDII Selection di Stadion Taruna Sragen, Minggu (24/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman menyerahkan tropi juara I turnamen sepakbola Piala Sukowati 2016 dan uang pembinaan Rp10 juta kepada perwakilan kesebelahan LDII Selection di Stadion Taruna Sragen, Minggu (24/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Setelah berdebat panjang, pelatih PSIR Haryanto memberi saran kepada Pengawas pertandingan Untung Darmadi dan Panpel agar segera mengambil keputusan terbaik. Sesaat menjelang pukul 18.30 WIB, wasit meniup peluit panjang dua kali sebagai tanda pertandingan tidak dilanjutkan dan dinyatakan selesai. (Baca: Pemain Layangkan Bogem Mentah)

Sekelompok polisi Polres Sragen mengondisikan emosi suporter LDII Selection saat berlangsung kerusuhan pemain dalam pertandingan Piala Sukowati 2016 di Stadion Taruna, Sragen, Minggu (24/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Sekelompok polisi Polres Sragen mengondisikan emosi suporter LDII Selection saat berlangsung kerusuhan pemain dalam pertandingan Piala Sukowati 2016 di Stadion Taruna, Sragen, Minggu (24/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

“Kami memutuskan kesebelasan LDII sebagai pemenang. Keputusan ini atas permintaan pelatih PSIR demi keamanan tim PSIR. Keputusan itu menjadi solusi terbaik untuk mengakhiri babak final Piala Sukowati 2016,” ujar Untung saat ditemui wartawan di Stadion Taruna, Minggu petang.

Pelatih PSIR, Haryanto, tidak keberatan dengan keputusan Pengawas Pertandingan dan Panpel. Haryanto mengaku kekalahan itu menjadi jalan terbaik. Dia menilai wasit tidak tegas ketika terjadi insiden yang mengakibatkan pemain PSIR terluka.

“Ya, paling tidak kehadiran kami dalam turnamen Piala Sukowati bisa menghibur warga Sragen. Kami sebenarnya ingin menunjukkan permainan yang cantik tetapi wasit tidak fair ya jadi enggak enak kan?” ujarnya.

Terpisah, Pelatih LDII Selection, Joko Rus, melihat masing-masing kesebelasan, LDII vs PSIR mengeluarkan pemain-pemain handal dari divisi utama.

“Setelah insiden itu sebenarnya Fahrudin tidak ada masalah. Memang ada pemain di LDII yang luka tapi tidak apa-apa. Selama turnamen berlangsung tim kami berusaha menjaga sportivitas,” ujar dia.

Salah satu pemain PSIR Rembang, Agus, terluka di bagian wajah saat pertandingan babak kedua dalam final Piala Sukowati 2016 di Stadion Taruna, Sragen, Minggu (24/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Salah satu pemain PSIR Rembang, Agus, terluka di bagian wajah saat pertandingan babak kedua dalam final Piala Sukowati 2016 di Stadion Taruna, Sragen, Minggu (24/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Sebelum pertandingan dimulai perwakilan kedua kesebelasan sudah menyatakan ikrar untuk meminimalisasi gesekan suporter dan menjaga sportivitas di dalam dan di luar lapangan. Namun ikrar yang disaksikan Kapolres Sragen AKBP Ari Wibowo, Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman, dan perwira Kodim 0725/Sragen diabaikan.

Budi Sudarsono, salah seorang pemain LDII Selection, diamankan polisi dalam kerusuhan pemain dalam pertandingan Piala Sukowati 2016 di Stadion Taruna, Sragen, Minggu (24/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Budi Sudarsono, salah seorang pemain LDII Selection, diamankan polisi dalam kerusuhan pemain dalam pertandingan Piala Sukowati 2016 di Stadion Taruna, Sragen, Minggu (24/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Kapolres menerjunkan 150 personel untuk mengamankan pertandingan itu. Personel pengendalian massa di bawah koordinasi Kabag Ops Polres Sragen Kompol Joni Susilo turun tangan hingga menjamin keamanan tim PSIR Rembang. Hujan deras yang mengguyur membuat sterilisasi stadion berjalan lambat. PSIR pulang paling belakang setelah massa LDII bersih.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…