Petani menghalau burung di persawahan Tulungagung, Jumat (23/10/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko) Petani menghalau burung di persawahan Tulungagung, Jumat (23/10/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko)
Minggu, 24 April 2016 01:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

PENYERAPAN BERAS
Sidak ke Tulungagung, Ini Temuan Satgas Sergap dan Bulog

Penyerapan beras dan gabah petani dioptimalkan oleh Bulog dibantu Satgas Sergap.

Solopos.com, TULUNGAGUNG – Satuan Tugas Serap Gabah dan Padi (Satgas Sergap) TNI untuk wilayah Jawa Timur menggelar inspeksi mendadak untuk mengecek penyerapan gabah petani di Kabupaten Tulungagung.

Sidak dipimpin Komandan Satgas Sergap Jawa Timur, Brigjen TNI Agus Heru P., Jumat (22/4/2016). Perwira tinggi Mabes TNI itu mengunjungi persawahan di Desa Sukowidodo dan melakukan operasi serapan gabah dengan membeli langsung gabah hasil panen petani.

“Kami ingin memastikan serapan gabah di daerah-daerah bisa tercapai sesuai target yang telah ditetapkan,” kata Agus Heru di sela sidak. Ia mengatakan, secara teknis pembelian gabah petani dilakukan oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Tulungagung.

Sementara Tim Satgas Sergap TNI hanya mendukung kinerja Bulog. “Kami tidak ingin gabah-gabah panenan petani lari ke luar daerah karena perilaku tengkulak. Sebisa mungkin padi itu bisa terserap sebanyak-banyaknya ke Bulog di daerah,” kata Heru.

Untuk wilayah Jatim, ia mengatakan target serapan gabah setara beras dipatok sebesar 1,050 juta ton. Sementara hingga medio April ini, lanjut dia, capaian serapan gabah setara beras yang berhasil dihimpun baru terkumpul sekitar 400.000 ton.

“Target serapan harus tercapai, kalau bisa lebih. Tidak boleh kurang karena ini demi tujuan nasional untuk swasembada beras agar Indonesia ke depan tidak lagi perlu impor [beras] tapi harus ekspor,” ujar dia.

Heru mengatakan, sidak tidak hanya dilakukan di Tulungagung tetapi juga ke seluruh kabupaten/kota di Jatim, termasuk Blitar, Trenggalek dan beberapa daerah di Jatim bagian barat. “Kemarin kami sudah menyisir di wilayah Jember-Banyuwangi dan sekitarnya dengan agenda yang sama,” kata Heru.

Kepala Bulog Subdivre Tulungagung Budi Cahyanto mengakui serapan gabah petani oleh Bulog saat ini terkendala aktivitas tengkulak dari luar daerah.

Menurut dia, permainan harga yang dimainkan tengkulak menyebabkan banyak gabah ataupun beras hasil panenan petani lebih banyak terserap pedagang besar luar daerah ketimbang ke Bulog.

“Ini yang kami tidak ingin terjadi, karena biasanya tengkulak atau pedagang luar daerah hanya berniat mengacaukan harga pasar. Masuk Tulungagung dan menawarkan harga pembelian lebih tinggi dari bulog, lalu saat bulog sudah beralih ke tempat lain harga diturunkan lagi sehingga merugikan petani,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, dari total target 50.000 ton beras di seluruh wilayah Bulog Subdivre Tulungagung yang meliputi Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar, serapan gabah setara beras mereka tercapai sekitar 7.500 ton.

LOWONGAN PEKERJAAN
GRIYA BAMBU KUNING, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…