Sardi, 65, warga Dukuh Sambu, Desa Bendo, Nogosari, Ngemplak menunjukkan semburan gas dengan cara membakarnya dengan korek api, Minggu (25/4/2016). Warga menduga kandungan gas di bawah sangat besar. (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos)
Minggu, 24 April 2016 21:30 WIB Muhammad Ismail/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PENEMUAN GAS BOYOLALI
Kepala ESDM Jateng: Kandungan Gas Biasanya Sementara, Lalu Hilang

Penemuan gas Boyolali masih diteliti. Namun biasanya, temuan gas di daerah Jateng hanya sementara lalu hilang sendiri.

Solopos.com, BOYOLALI — Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng, Teguh Dwi Paryono, mengaku belum mendapatkan informsi ditemukannya gas di Dukuh Sumbu, Desa Bendo, Ngemplak, Boyolali. ESDM wilayah Surakarta, kata dia, sampai sekarang belum melaporkan adanya temuan itu.

“Kami akan menindaklanjuti temuan itu jika ESDM wilayah Surakarta sebagai penanggungjawab wilayah sudah memberikan laporan resmi,” kata dia, Minggu (24/4/2016).

Ditanya soal pemanfaatan gas, Teguh mengatakan perlu penelitian panjang dan waktu lama untuk bisa memanfaatkannya. Dari pengalaman temuan gas di Jateng biasanya gas yang terkandung di dalam tanah bersifat sementara dan setelah itu hilang dengan sendirinya.

Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum dan ESDM (DPU ESDM) Boyolali membawa sampel tanah di lokasi sumur yang mengeluarkan gas di Dukuh Sambu, Desa Bendo, Nogosari, Boyolali akhir pekan lalu. Sampel tanah itu digunakan untuk meneliti besaran kandungan gas yang ada di bawah tanah.

Camat Nogosari, Wagino, mengatakan ESDM Boyolali meminta kepada warga untuk menghentikan pembuatan sumur bor di Masjid Al-Rohman. Penghentian pembuatan sumur bor tersebut dilakukan karena gas yang ada di bawah tanah dapat membahayakan warga.

“ESDM datang ke lokasi ditemukannya gas dan meminta warga menghentikan aktivitas penggalian sumur bor. Kami meminta warga menutup sumur yang mengeluarkan gas itu menggunakan pipa plastik,” ujar Wagino saat dihubungi Solopos.com, Minggu (25/4/2016).

Wagino mengatakan ESDM setelah meninjau lokasi langsung membawa sampel tanah berupa lumpur berwarna putih dan berbau belerang untuk diteliti. Tanah itu kemdian diserahkan ke ahli Geologi di Yogyakarta. “Kami belum tahu berapa banyak kandungan gas yang ada di Sumbu. Kalau melihat dari semburan gas yang keluar kemungkinan besar kandungan gasnya besar,” kata dia.

Wagino berharap gas di Sumbu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga khususnya warga RT 005/RW 003 yang menemukan gas. Kalau nanti gas kandungannya besar kemudian dijual pemkab, warga setempat harus ikut menikmati hasil penjualan gas itu. “Kami butuh kepastian telebih dulu apakah gas itu layak dimanfaatkan untuk rumah tangga atau tidak,” kata dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…