Anggota KWT Karanglo Makmur mengemas keripik daun singkong di Karanglo, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman. (Harian Jogja/Rima Sekarani I.N)
Minggu, 24 April 2016 11:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

KETAHANAN PANGAN
Jaga Surplus Singkong, Petani Butuh Teknologi Penyimpanan

Ketahanan pangan berupa penerapan teknologi.

Solopos.com, JOGJA-Meski secara nasional Indonesia melakukan impor ubi kayu atau singkong dari Vietnam, tetapi secara lokal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami surplus setiap tahun. Hingga akhir 2015 lalu, surplus singkong DIY mencapai 835.466 ton.

Impor singkong yang dilakukan pada Maret 2016 yang tercatat Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 987,5 ton. Alasannya, pola produksi pada bulan tersebut rendah serta produk singkong nasional belum semuanya memiliki standar kualitas Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).

Meski begitu, Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Syam Arjayanti memastikan bahwa pasokan singkong di DIY masih terkendali. “Masih aman,” tegasnya pada Harian Jogja di ruangannya, Jumat (22/4/2016).

Ia memaparkan, data produksi singkong DIY pada 2015 mencapai 873.362 ton. Sementara untuk konsumsi hanya 10,3 perkapita per tahun sehingga total kebutuhannya per tahun hanya 37.896 ton.
“Jadi kita juga masih surplus,” tandasnya.

Selain untuk konsumsi rumah tangga, singkong yang beredar di DIY juga digunakan untuk pakan ternak. Dari total konsumsi, 28,3% untuk konsumsi ternak dan sisanya untuk rumah tangga dan panganan olahan.

Untuk komoditas singkong sendiri, DIY sampai mengirimkan pasokannya ke luar daerah dan ke luar negeri. Total ekspor singkong DIY berkisar 96.650 ton pada tahun 2015 lalu sementara untuk impor hanya 17.406 ton.

“Impor ini juga berlaku untuk singkong dari luar DIY yang masuk ke DIY,” ucapnya.

Ia mengakui jika pada bulan Januari hingga Maret komoditas singkong belum banyak diproduksi. Biasanya, panen singkong akan terjadi saat pertengah tahun yakni antara bulan Juni dan Juli.

Perempuan berjilbab ini mengatakan, untuk masalah penyimpanan memang petani masih mengalami kendala. Pasalnya singkong merupakan salah satu bahan pangan yang tidak mampu bertahan lama. Untuk singkong basah, kata dia, hanya mampu disimpan maksimal satu bulan. Hal ini membuat penduduk Gunungkidul banyak yang mengolah singkong menjadi gaplek.

Meski singkong bukan termasuk komoditas strategis yang banyak mendapat perhatian pemerintah, tetapi dia berharap pemerintah tetap memberi dukungan teknologi untuk mengelola penyimpanan singkong.

“Iya benar kalau kita [DIY] sudah surplus tapi kita juga butuh dukungan teknologi agar setiap tahun tersedia,” ungkap Syam.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…