Siswa Taman Indria Ibu Pawiyatan Tamansiswa (TK Tamansiswa) menjual dan menjelaskan hasil karya dalam bazar yang digelar Sabtu (23/4/2016). (JIBI/Harian Jogja/dok. TK Tamansiswa) Siswa Taman Indria Ibu Pawiyatan Tamansiswa (TK Tamansiswa) menjual dan menjelaskan hasil karya dalam bazar yang digelar Sabtu (23/4/2016). (JIBI/Harian Jogja/dok. TK Tamansiswa)
Minggu, 24 April 2016 05:20 WIB Mediani Dyah Natalia/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

HARI KARTINI
TK Tamansiswa Pilih Gelar Bazar

Hari kartini dimaknai berbeda oleh siswa TK.

Solopos.com, JOGJA-Tidak seperti sekolah lain yang memperingati Hari Kartini tepat tanggal 21 April 2016, siswa Taman Indria Ibu Pawiyatan Tamansiswa  (TK Tamansiswa) memilih Sabtu (23/4/2016) sebagai puncak acara. Kegiatan yang digelar pun unik, bazar aneka barang dan karya asli siswa.

Kegiatan ini melibatkan orang tua, komite sekolah, dan para pamong. Kegiatan ini menurut Ketua Komite Sekolah, Heri Purwito diprakarsai orang tua siswa, sedang sekolah yang menyediakan sarana dan prasarana.

Salah satu orang tua siswa, Dwi Yuli Prastiwi menyampaikan dalam kesempatan ini anak-anak belajar berani. Mereka tidak hanya menjual barang tetapi juga menjelaskan bagaimana karya itu dibuat. Upaya ini diharapkan dapat membentuk anak-anak belajar menghargai karya cipta.

“Tampak sekali anak-anak menikmati peran mereka di belakang meja sebagai penjual sekaligus presenter,” terangnya seperti dikutip dari rilis yang Harianjogja.com, terima, Sabtu (23/4/2016)

Ketua Bagian Taman Indria IPTS, Nyi Sihgiyanti, SPd. menjelaskan TK Tamansiswa atau dikenal dengan Taman Indria Ibu Pawiyatan Tamansiswa, adalah TK yang pertama kali didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922. Konsep yang diusung oleh TK ini berupa pendidikan berbasis pada seni budaya.

Konsep asli yang menyerap potensi-potensi seni budaya lokal sekitar untuk menyelaraskan keseimbangan intelektualitas dan rasa. Di sekolah ini salah satunya menggunakan metode Sariswara ciptaan Ki Hadjar Dewantara, membiasakan siswa dengan keindahan dan ketertiban sekaligus mengasah kecerdasan melalui olah tubuh atau tarian, dipadu dengan nyanyian yang berisi kata-kata bersastra yang mengandung makna tersirat tentang kepahlawanan, budi pekerti, kesopanan, kecintaan pada lingkungan, dan kepatuhan pada Tuhan.

“Semua itu dikemas dalam satu wirama permainan atau dolanan anak yang indah dan menyenangkan bagi anak,” tutup dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…